Natal Dalam Selimut Pandemi -->
Cari Berita

Advertisement

Translate

Berita Pilihan

Natal Dalam Selimut Pandemi

editor: jandry_kandores
19 Desember 2020


MENGINJAK penghujung tahun 2020, dunia diliputi dengan musibah bencana non alam Coronavirus Disease (Covid-19).



CATATAN: CINRI ASSA, 

Minahasa Tenggara



Virus yang hingga saat ini belum ditemukan penangkalnya, menyebar secara cepat hingga ke pelosok wilayah dunia bahkan Indonesia terlebih khusus Minahasa Tenggara.


Seperti mengisahkan kapal berlayar dalam gulungan gelombang besar dan kehilangan jalan. Sang nakhoda berikut penumpangnya mengetahui arah dan tujuan mereka, tetapi badai yang tidak biasa mengacaukan pergerakan mereka, terasa pelan dan menghanyutkan.


Badai itu menjadi ilustrasi bagi pandemi Covid-19, apa yang terjadi pada akhir-akhir tahun ini membawa orang pada masa silam yang tenang dan damai. 


Tinggallah di dalam kamar untuk menghindari jilatan air laut yang mampu menyeret orang tenggelam ke pusaran badai.


Maka, dugaan-dugaan yang menenangkan hati itu menjadi penjerumusan bagi datangnya kematian. Angka kasus Covid-19 mengalami kenaikan saban hari, di Indonesia dan seluruh dunia.


Untuk menemukan akar persoalan, baiklah kita mengalihkan sebentar pandangan suram sebelum pandemi Covid-19 menjangkiti umat manusia. 


Meskipun masa pandemi meletakkan dunia dalam ketidakpastian, diakhir tahun ini masalah demikian sudah dialami masyarakat dunia terlebih warga Mitra.


Katakanlah perubahan struktur usaha bergeser dari gaya konvensional menuju dunia digital, mendisrupsi segala lini dari hulu hingga ke hilir sampai pada perdagangan. 


Indonesia pada umumnya dan Sulawesi Utara pada khususnya terlibat dalam ketidakpastian, itu diperlihatkan oleh fluktuasi harga kopra dan cangkih yang merupakan komoditas utama. 


Pada bulan Maret hingga April, dalam periode ini, boleh dikatakan bahwa Mitra benar-benar diuji untuk menghadapi wabah yang menyergap masyarakat. 


Lockdown mengemuka sebagai langkah mitigasi untuk mencegah semakin meluasnya penyebaran Covid-19. 


Tetapi, lockdown bukan pilihan.


"Kebijakan lockdown, baik ditingkat nasional dan tingkat daerah, adalah kebijakan pemerintah pusat," 


"Kebijakan ini tak boleh diambil oleh pemda, dan tak ada kita berpikiran untuk kebijakan lockdown," kata Presiden Jokowi dalam jumpa pers di Istana Bogor, Senin (16/3/2020) silam.


Menjaga jarak, mencuci tangan dan memakai masker menjadi langkah ideal untuk mencegah penularan virus. Bahkan saat itu diberlakukan pembatasan secara besar terhadap pergerakan fisik masyarakat. Di awal April, kasus Covid-19 sudah menyebar ke 32 provinsi. 


Aktivitas bekerja di kantor, pendidikan, hingga kegiatan beribadah di rumah ibadah dibatasi, dengan beberapa pengecualian dibidang kesehatan, logistik, pangan dan sebagainya.


Perubahan besar itu terjadi di masyarakat. Pukulan telak bukan semata menyangkut ketakutan penularan, melainkan juga kekhawatiran lain seperti kehilangan pendapatan akibat PHK. 


Meski demikian, wabah tidak kunjung selesai dengan angka positif terus bertambah. Segala cara pencegahan sampai penanganan silih berganti dilaksanakan.


Harapan yang tersisa setidak-tidaknya sampai akhir tahun 2020 ialah kesembuhan dan terbebas dari serangan virus ini. 


Menjelang tutup tahun 2020, dunia belum sembuh dari pandemi ini. Ada harapan mengakhiri musibah ini di tahun mendatang lewat vaksinasi. 


Bahkan saat menghadapi hari besar umat nasrani, yakni Natal, makna dan khusyuknya peringatan kelahiran Yesus terhalang dengan pembatasan sosial itu sendiri.


Ibadah virtual pun menjadi jalan keluar untuk seluruh jemaat dalam mengikuti prosesi perayaan Natal.


Tak hanya itu, budaya 'pasiar' natal yang setiap tahun dilaksanakan mungkin tak akan terjadi. Sehingga terkesan lebih hilangnya makna natal itu sendiri.


Di Kabupaten Minahasa Tenggara bakal kembali menerapkan pembatasan keluar masuk wilayah. Bahkan dipintu masuk perbatasan wilayah Mitra akan diaktifkan kembali posko pencegahan Covid-19.


Bupati Mitra James Sumendap telah mengeluarkan penegasan untuk pembatasan sosial dengan mengaktifkan kembali Posko pintu masuk perbatasan di wilayah Mitra. 


Pendatang yang masuk Mitra, harus memperlihatkan surat hasil pemeriksaan rapid test dari Puskesmas atau RS. Begitupun warga Mitra yang akan bepergian keluar daerah, harus memiliki surat keterangan jalan.


"Posko penjagaan diseluruh perbatasan Mitra kembali akan diaktifkan. Hal ini dikarenakan meningkatnya kasus pasien Covid-19. Untuk pendatang yang akan masuk di wilayah Mitra harus memperlihatkan surat keterangan Rapid Test," tegas Bupati James Sumendap, Jumat (18/12/2020)


Selain itu, lanjut Bupati, aktivitas ibadah Natal akan dilakukan secara live streaming. Kemudian, fasilitas umum dan lokasi wisata akan ditutup, terkecuali pasar yang akan diatur secara bijak agar tidak terjadi kerumunan.


Namun dari itu semua, pandemi tampaknya dapat berakhir dengan upaya-upaya pencegahan, menghindari kerumunan dan menaati protokol kesehatan, mencuci tangan, menjaga jarak dan memakai masker. Dan nuansa ketidakpastian itu agaknya akan terulang lagi di tahun mendatang. 


Sungguh ini menjadi kenyataan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Terlebih khusus saat perayaan natal.


Akan tetapi hal ini harus dilakukan, mengingat belum ada kepastian kapan virus ini akan berakhir dan masih terus menghantui seantero dunia.


Natal dalam selimut pandemi.

Inilah kenyataan berbeda yang harus dialami masyarakat dan umat nasrani khususnya.


Semoga dalam damai natal ini kita dapat menitipkan doa dan harapan agar musibah non alam Covid-19 bisa segera berakhir.


Syalom...