Praktisi: Bukti Kecerdasan Komunikasi Publik Ada di CEP dan SK -->
Cari Berita

Advertisement

Translate

Berita Pilihan

Praktisi: Bukti Kecerdasan Komunikasi Publik Ada di CEP dan SK

editor: hut_kamrin
Jumat, 06 November 2020

Praktisi Komunikasi Publik Inyo Rumondor. Foto: Hut Kamrin/KID

Manado, KOMENTAR.ID 

KPU Sulawesi Utara menggelar Debat Publik pasangan calon Gubernur - Wakil Gubernur, Kamis (5/10). Debat yang disiarkan melalui TV dan Streaming YouTube menampilkan paslon nomor urut 1 Christiany Eugenia Paruntu - Sehan Salim Landjar (CEP-Sehan), nomor urut 2 Vonnie Aneke Panambunan - Hendry Runtuwene (VAP-HR) dan nomor urut 3 Olly Dondokambey - Steven Kandouw (OD-SK). 

Tiga paslon mendapat kesempatan memapar visi dan misi. Momentum debat di mata publik menjadi salah satu parameter menakar kapabilitas kandidat. Praktisi Komunikasi Publik Inyo Rumondor mengatakan, bukti kualitas komunikasi itu ada di sosok CEP dan SK. Ada kecerdasan komunikasi yang mengalir dari cara dan gestur CEP pun SK, selama memapar materi, memberi tanggapan dan mendistribusikan informasi ke audiens. Termasuk konsisten dengan waktu. 

Rumondor melihat empat kualifikasi yang mengukuhkan kecerdasan komunikasi CEP dan SK. 

Pertama, penyampaian materi. Baik CEP maupun SK menyampaikan visi dan misi secara lugas, sistimatis dan mudah dicerna. Tesis yang dibeber CEP dan SK, disertai sokongan database. "Di sinilah kita melihat kecerdasan memapar materi," tutur Rumondor, di Manado, Jumat (6/10).

Kedua, daya respon CEP dan SK terhadap pertanyaan kandidat lain. Jawaban Bupati Minsel dan Wakil Gubernur Sulut itu to the point, tegas, terukur dan tepat sasar. "Tidak keluar dari koridor pertanyaan. Masih dalam tema perdebatan," ujar Rumondor. 

Ketiga, konsistensi waktu. CEP dan SK menggabungkan akselerasi waktu dan akurasi mutu jawaban. "Antara waktu dan mutu jawaban itu tidak meleset," tutur Rumondo.

Keempat, gestur tubuh. CEP dan SK mampu mengirim pesan ke publik dengan gestur tubuh yang apik. Artinya ada pola komunikasi yang linear antara penjelasan verbal dan mimik atau gerak tubuh. "Bahkan untuk hal yang sulit pun, audiens masih bisa membaca maksud melalui gestur tubuh," singgung Ketua Perhumas Manado itu. 

Meski CEP dan SK setara dalam kecerdasan komunikasi publik, Rumondor memberi kredit poin ke CEP karena tiga hal berikut; 

Pertama, CEP sosok yang kokoh melawan subordinasi kaum perempuan di panggung politik. "Kultur politik kita masih memberi ruang dominasi kaum laki-laki. Tapi CEP berdiri di panggung besar dan membuktikan kapabilitas meyakinkan publik melalui materi visi-misi CEP-Sehan," jelas Rumondor.

Kedua, CEP bukan petahana gubernur yang dibekali database tentang Sulut. "Tapi dia mampu membeber visinya dengan lugas dan detil tentang Sulut," sambung Rumondor. 

Ketiga, closing statement. CEP tampak unggul karena menyimpulkan rangkaian materi pemaparan. "Artinya ada penegasan penting bagi publik," tandas Rumondor. 

Senada dengan Rumondor, aktifis Sulut Decky Maskikit mengatakan, kemampuan komunikasi karena dukungan pendidikan. "Itu tergantung pernah duduk di bangku kuliah atau tidak. Karena gelar bukan jaminan," singgung Maskikit. (*)