MENAKAR KESUKSESAN FESTIVAL WALE MAZANI? -->
Cari Berita

Advertisement

Translate

Berita Pilihan

MENAKAR KESUKSESAN FESTIVAL WALE MAZANI?

editor: hut_kamrin
Senin, 16 November 2020

Festiwal Wale Mazani 2020. Foto: Istimewa

Ambrosius M. Loho, M. Fil. 
(Dosen Unika De La Salle Manado – Penulis, Pegiat Filsafat.)

Festival Wale Mazani 2020 sukses digelar. Banyak hal yang telah dikerjakan, tapi juga banyak hal yang perlu dikembangkan secara massif. Kegiatan formalnya ditutup dengan Dialog Budaya dengan menghadirkan perwakilan pemerintah dalam hal ini Dinas Kebudayaan Provinsi Sulawesi Utara yang diwakili oleh Kepala Bidang Kesenian, Ibu Patricia Mawitjere, perwakilan akademisi Prof. DR. Perry Rumengan, Perwakilan Budayawan, DR. Paul Richard Renwarin, dan Perwakilan organisasi Persatuan Insan Kolintang Nasional (PINKAN), yang dimoderatori oleh penulis sendiri.
Dari Festival Wale Mazani, penulis menangkap beberapa poin berikut: Pertama, Festival Wale Mazani adalah sebuah situasi riil yang mementaskan sebuah fakta kecintaan masyarakat pada musik tradisional kolintang. Dan hemat penulis hal ini semakin menegaskan bahwa ada sesuatu yang menarik di dalam musik kolintang itu. Maka jika dikaitkan dengan dialog budaya yang memuncaki seluruh kegiatan formal festival ini, rekomendasi mencatat bahwa setiap insan kolintang harus bersinergi, bekerja bersama, bergotong-royong, dan bahu membahu menggaungkan musik kolintang dengan mendetangkannya dalam rasa seni yang berulang-ulang, sejalan dengan apa yang diuraikan oleh DR. Renwarin. Geliat itu jangan hanya dalam bentuk aktual (mengikut lomba, dapat juara dan dapat uang pembinaan, selesai), tetapi jusru harus menjadi jalan hidup-way of life, dalam pola pikir, pola rasa dan pola tindak.
Kedua, minat pada seni dan budaya. Minat tidak selamanya mewujudkan keinginan seseorang. Atas cara tertentu, minat terkadang menjadi sebuah realitas yang seolah hanya dipandang sebagai hobby saja. Tapi atas cara tertentu, minat pada akhirnya mumpu mewujudkan keinginan seseorang. Maka dari itu, ketika kita menyalurkan minat kita, pasti kita akan menyadarinya bahwa itu bagian dari keinginan kita. Terhadap seni, kita harus mengapresiasi anak muda, generasi penerus cita-cita bangsa, tapi juga generasi ‘tua’ yang telah banyak mengajarkan berbagai macam hal: Ketrampilan, ‘attitude’ mengajar, serta cinta pada seni tradisional.
Kemudian, apa sesungguhnya pesan terdalamnya? Bahwa perhatian semua sektor terkait sebuah event, merupakan bukti bahwa kita tidak bisa maju tanpa melakukan sesuatu secara nyata. Walaupun yang sudah dilakukan secara nyata itu, atas cara tertentu akan sarat dengan tantangan bahkan rintangan, tetapi bergeraklah, berbuatlah dan lakukanlah, demikian Founders Rumah Budaya Nusantara Wale Mazani, Bpk. Joudy Aray menegaskan. 
Demikian juga, hasil yang akan atau telah dicapai bukan semata-mata untuk mencapai apa yang sudah dicapai itu dari segi kuantitas serta suksesnya sebua kegiatan, tetapi bahwa perhatian kita menuunjukan bahwa kita turut memajukan dunia dan terutama manusia dan budayanya. Jargon: Jika bukan kita, siapa lagi, dan atau, jika tidak sekarang kapan lagi, hendaknya menjadi pemantik untuk terus menggaungkan sebuah unsur kebudayaan-kesenian, agar kesenian itu terus bergaung bukan hanya di panggung festival, tapi melebihi itu, bergaung di dalam rasa dan pola laku berkesenian.
Hendaknya juga nilai-nilai dan makna musik tradisional kolintang itu, bisa terus bergaung sepanjang masa. Karena musik kolintang itu memiliki nilai: Pertama, identitas seni tradisi yang dominan dan berkesinambungan, yang berpeluang untuk dikembangkan dan diperkaya. Seni tradisi (kolintang) menjadi identitas budaya Minahasa. Kedua, ‘pengartikulasian’ kesenian-kesenian tradisional sesuai dengan tuntutan perkembangan sosial, sehingga mudah beradaptasi dan mendorong kepekaan umum terhadap nilai-nilai seni khususnya nilai seni tradisional. Bahwa kolintang mampu menyesuaikan dengan perkembangan musik yang berkesinambungan. Ketiga, dinamika seni khususnya kolintang, menjadi kreasi untuk kelengkapan kehidupan sehari-hari, dalam arti menjadikan kesenian tradisional sebagai semacam way of life. (Loho 2018)
Demikian juga kita perlu ‘manaruh’ lebih dalam nilai kultural musik kolintang berikut ini dalam laku hidup kita. Pertama, harmoni dalam musik. Musik khususnya kolintang tidak bisa dimainkan oleh satu orang saja, melainkan oleh perpaduan sekelompok orang yang memainkan secara bersama-sama. Kerja sama yang serempak dan harmonis akan melahirkan harmoni nada-nada yang indah dan merdu. Kedua, persaudaraan dalam kelompok, di mana satu pemain terhadap pemain lain saling memadukan semua alat musik. Di sini nilai yang bermakna dan tak kalah pentingnya dalam persaudaraan adalah gotong-royong. Ketiga, nilai kreativitas. Seseorang bisa menjadi creator/pencipta dalam menciptakan harmoni dan nilai estetika. (Loho 2019. Salam budaya!