‘Kisruh Bendera’ PDIP di Bailang, Yantje: Tidak ada Babak Belur, Itu Kamuflase Pelapor -->
Cari Berita

Advertisement

Translate

Berita Pilihan

‘Kisruh Bendera’ PDIP di Bailang, Yantje: Tidak ada Babak Belur, Itu Kamuflase Pelapor

editor: komentar.id
Kamis, 12 November 2020

Ilustrasi bendera PDI Perjuangan. (Foto: Istimewa)


Manado, KOMENTAR.ID


Laporan Unnita Tandy Kakauhe, IRT asal Kelurahan Bailang, Kecamatan Bunaken, Kota Manado terhadap lelaki Yantje terkait penolakan pemasangan bendera PDIP di Bailang, masih diproses kepolisian. 


Namun begitu kepada wartawan, lelaki Yantje sebagai terlapor menegaskan apa yang dilaporkan pelapor Unnita Kakauhe, adalah tidak benar.


Dari rilis yang diterima redaksi Rabu (11/11/2020), Yantje menceritakan kisruh itu berawal dari pemasangan atribut PDI Perjuangan seperti bendera dan baliho calon pilkada. Kemudian tiba-tiba datang lelaki Albert Pontolumiju dan istrinya Unnita Kakauhe yang langsung mencabut bendera partai dan melempar ke tanah.


“Melihat tindakan tersebut saya keberatan dan menanyakan alasan sampai bendera partai dicabut dan dibuang ke tanah. Namun mereka beralasan tanah yang dipasangi bendera adalah tanah milik mereka. Padahal tanah itu berdasarkan putusan MA, bukan lagi milik mereka,” tegas Yantje.


Meski sudah dijelaskan, suami istri tersebut menurut Yantje tetap ngotot. Bahkan saat itu lelaki Albert bereaksi seakan-akan hendak melakukan pemukulan.


“Dia seakan mau memukul saya, tapi tongkat yang dia pegang jatuh. Dia jatuh tanpa dipukul dan dia tidak kuat berdiri karena kondisi kakinya yang patah tulang,” jelas Yantje.


Sementara istrinya langsung mengambil tongkat Albert yang jatuh ke tanah kemudian melalukan pemukulan.


“Saya sudah berusaha menghindar bahkan sampai handphone saya jatuh. Namun istrinya terus memukul dengan tongkat sehingga secara refleks saya menendang agar dia berhenti memukul,” ungkapnya.


Dalam kisruh ini Yantje membantah bila dirinya melakukan penganiayaan seperti yang diberitakan sebelumnya. 


“Sama sekali tidak ada lebam terlihat di wajahnya atau memar. Itu hanya kamuflase. Kalau kita lihat bukti pelaporannya disebut tindak pidana ringan, karena memang tidak ada yang babak belur,” tukas Yantje.


Diketahui sebelumnya, Unnita Tandy Kakauhe melaporkan lelaki Yantje atas kasus dugaan penganiayaan.




Kepada KOMENTAR.ID, Rabu (11/10/2020), korban mengatakan saat kejadian yakni 25 Oktober 2020, korban berada dalam rumah bersama suami. 


Beberapa saat kemudian, korban dan suaminya keluar rumah melihat halaman telah dipenuhi atribut partai. 


Keberatan adanya atribut PDIP,  korban bersama suami mencari tahu siapa yang memasang. Namun tiba-tiba korban diserang oleh pelaku dan sejumlah oknum. 


Sedangkan Kabid Humas Polda Sulut Kombes Pol Jules Abraham Abast, ketika dikonfirmasi mengatakan, kepolisian tetap profesional dalam penanganan laporan masyarakat. Abast menegaskan, Polda Sulut dan jajaran polresta, polres dan polsek tetap menindaklanjuti laporan yang masuk sesuai SOP. 


(kid/*)