Ketemu Dokter PPDS Unsrat, Jiwa Pelakor Spesialis Kandungan Meronta-ronta di Masa Pandemi -->
Cari Berita

Advertisement

Translate

Berita Pilihan

Ketemu Dokter PPDS Unsrat, Jiwa Pelakor Spesialis Kandungan Meronta-ronta di Masa Pandemi

editor: hut_kamrin
Jumat, 06 November 2020

Ilustrasi perselingkuhan. Foto: google image

Manado, KOMENTAR.ID 

Wajah perawat Nia memerah saat menemui wartawan, Kamis (5/10) di bilangan Karang Ria, Manado. Sambil mengenakan masker, Nia menceritakan riwayat dugaan perselingkuhan sang suami, dokter PO alias Paul bersama spesialis kandungan dr M, yang berprofesi di RSUD Mala, Talaud. 

Perjumpaan Paul dan M, saat Paul menerima penugasan sebagai Residen Bedah di RSUD Mala, November 2019. Pertemuan itu membuka lembaran kisah Paul dan M bermain di belakang Nia. Dalam perjalanan waktu, Nia merasa ada yang kurang beres dengan sikap suami pujaan hati yang sudah empat tahun menikah. 

Nia lalu menelusuri siapa wanita idaman lain yang mengisi ruang hati sang suami. Ternyata Dokter M. Spesialis kandungan di RSUD Mala dan salah satu rumah sakit di Bolaang Mongondouw. 

Hingga suatu saat, Nia memergoki Paul dan Margie di sebuah kos-kosan Elim, Malayang, Manado. 

"Saya sudah membicarakan secara baik-baik dengan wanita tersebut, tapi dia tidak mau meninggalkan suami saya, sampai- sampai saya diusir dari kamar, tempat kos-kosan mereka berdua," ungkap Nia. 

Jiwa pelakor M rupanya meronta-ronta. Makin hari makin lengket. Enggan mau berpisah dari Paul. Tak peduli di masa pandemi Covid-19.  Sekalipun usia M lebih tua dua tahun dari Paul. 

Paul sendiri berprofesi sebagai dokter ini sedang melanjutkan studinya dan mendapatkan beasiswa di Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Bedah di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado. Kasus dugaan selingkuh itu berlanjut di Polresta Manado. 

"Ya, kasus tersebut sedang ditangani Polresta Manado," kata Kasat Reskrim Polresta Manado AKP Tommy Aruan.

Kuasa hukum pelapor, Firman Mustika SH MH mengatakan, laporan polisi tersebut lanjut berproses karena barang bukti yang diajukan memenuhi syarat.

"Tadi, klien kami telah memenuhi panggilan di Polresta Manado. Kasus ini sementara berproses dan kami harap dapat berjalan dengan baik sesuai khaidah hukum yang berlaku," ujar Firman, Kamis (5/11/2020).

Buntut kasus tersebut, profesi dokter dan nama PPDS Bedah serta Fakultas Kedokteran (Faked) Unsrat pun turut terbawa.

Dihubungi wartawan terkait status dan penanganan terhadap Paul, yang merupakan dokter penerima beasiswa untuk spesialis bedah, pimpinan PPDS Bedah Faked Unsrat dr Nico Alexander Lumintang Sp.B(K)KL pun menyerahkannya kepada Faked dan pihak universitas.

"Mungkin lebih bagus tanya ke universitas atau Fakultas Kedokteran. Aturan pendidikan itu sebagai bagian dari aturan pihak universitas yang diturunkan ke semua prodi," kata dr Nico.

Dengan demikian, jika ada kasus serupa, maka penanganan, penindakan berupa sanksi dan sebagainya ditentukan oleh universitas.

"Tentu ada laporan dari prodi ke FK (Faked) dan selanjutnya ke universitas," jawab dr Nico.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Untuk Dr dr Billy J Kepel MMed.Sc mengaku belum bisa memberi keterangan lebih karena belum tahu tentang permasalahan yang dimaksud.

"Saya belum bisa memberi keterangan lebih tentang ini karena belum tahu, belum menerima informasi. Saya akan cek informasinya," ungkap dr Billy.

Fakta yang ditemukan, bahwa ternyata ada Peraturan Rektor tentang hak, kewajiban dan sanksi mahasiswa Unsrat.

Secara umum, hal tersebut disampaikan oleh Wakil Rektor 3 Unrat Bidang Kemahasiswaan Drs Tuerah August Musa Ronny Gosal.

"Peraturan Rektor No. 04 Tahun 2019 tentang Hak, Kewajiban n Sanksi Mahasiswa Bab V. Larangan pada pasal 5 ayat a, mahasiswa dilarang melakukan hal-hal yang dapat menurunkan kehormatan dan martabat mahasiswa dan almamater UNSRAT (pelecehan seksual, pencemaran nama baik, penyalah gunaan obat-obatan terlarang, dan lain-lain). Perbuatan tersebut bisa dikenai sanksi, seperti yang terdapat pada Bab V1 pasal 7 a. Sanksi Ringan berupa teguran lisan, b. Sanksi Sedang pencabutan hak mengikuti semua kegiatan akademik selama 1 semester atau lebih, c. Sanksi Berat pemberhentian secara hormat atau tidak hormat tergantung jenis pelanggaran dan kalau terbukti diberhentikan dengan tidak hormat," jelas Gosal.

Dugaan perselingkuhan dua oknum dokter ini pun dianggap mencoreng profesi dokter yang kini dianggap sebagai garda terdepan dalam penanganan Covid-19.

Kasus ini pun telah sampai pada Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sulawesi Utara yang saat ini diketuai oleh Dr. dr. Jimmy Panelewen, Sp.B -KBD yang juga menjabat sebagai Direktur RSUP Prof Kandou Malalayang.

Dengan tegas, dr Jimmy Panelewen pun menyampaikan akan memeriksa kasus ini.

"Saya lagi minta ke tim MKEK untuk mengecek kasus ini," tandas Jimmy. (*)