FRAME PENJAGA BUDAYA MENAFSIRKAN BUDAYA -->
Cari Berita

Advertisement

Translate

Berita Pilihan

FRAME PENJAGA BUDAYA MENAFSIRKAN BUDAYA

editor: hut_kamrin
Minggu, 08 November 2020

Oleh: Dominica Diniafiat 

(Program Doktoral Universitas Hindu Indonesia Denpasar – Pegiat Budaya)

Senin 9 November 2020 adalah kesempatan yang diambil untuk membahas kebudayaan, sambil merefleksikan kebudayaan. Frame Penjaga Budaya sebagai wadah yang sangat ‘concerned’ pada kebudayaan akan berdiskusi tentang bagaimana kebudayaan itu harus dijaga. Ada berbagai cara untuk menjaga kebudayaan, termasuk memberi perhatian kepada bagaimana kebudayaan itu diwadahi terutama dalam berbagai kesempatan, entah dialog budaya, diskusi budaya ataupun talkshow budaya. 


Maka terkait hal ini, kita perlu memahami bahwa kebudayaan ibarat sebuah teks yang memang harus dibaca dan ditafsirkan. Jadi karenanya, kita tidak perlu takut untuk menafsirkannya. Sebagai sebuah teks, kebudayaan harus dibaca dan dipahami baik dengan pendekatan naratif maupun hermeneutis.
Apa yang dikatakan oleh para pendahulu di bidang budaya, tentu perlu kita lakukan dalam praksis. Koentjaraningrat misalnya telah menegaskan bahwa kebudayaan sebagai hasil cipta, karya, karsa dari sebuah realitas. Hasil karya cipta di bidang seni (kesenian) pun merupakan sebuah unsur penting kebudayaan. Demikian juga yang tak kalah pentingnya, unsur-unsur dari kebudayaan-kesenian, hari ini cukup berkembang. 

Maka dari itu, wadah-wadah yang tersedia dalam realitas perlu dimaksimalkan untuk menyiarkan kebudayaan itu. Diskusi dan diskursus budaya pun harus terus dijalankan untuk sebuah perpanjangan ‘kehidupan’ kebudayaan itu. Kendati tak jarang kita temukan, banyak diskusi budaya yang terpentas, mengetengahkan ada berbagai klaim atas ini dan itu, tentang leluhur sebuah kebudayaan. Demikian juga, terdapat berbagai forum diskusi yang memang dengan ‘fair’ mencoba memberi sebuah cara berpikir baru terhadap sebuah kebudayaan.

Hal lain yang penting adalah bagaimana kebudayaan hari ini, menjadi sebuah hal yang katakanlah, difavoritkan. Kita bisa melihat, di tengah pandemi kini, hal-hal yang menyangkut tradisi yang sifatnya tradisional, coba dikembangkan dan dijadikan pijakan. Semua orang semakin menyadari bahwa kembali ke tradisi, adalah sesuatu yang paling mungkin saat ini. 

Penulis, yang menjadi pengagum dengan budaya Minahasa, turut mengembangkan kebudayaan ini, hal itu menjadi penting karena budaya Minahasa sangat menarik bagi penulis. Hal yang penting misalnya, tampak dalam kebudayaan Minahasa seperti kebiasaan memberi salam ketika bertemu dengan orang dengan kata tabea, merupakan suatu ucapan syukur bukan hanya sebagai ucapan atau sapaan ketika kita bertemu orang pada satu waktu misalkan pada pagi hari kita memberi salam selamat pagi, tetapi terlebih ucapan atau sapaan bahwa sebagai manusia harus saling menghormati satu sama lain tanpa kenal dari mana orang itu berada. 

Jadi, dari contoh kecil ini, penulis merasa bahwa yang terpenting adalah juga makna dibalik sebuah sapaan. Dengan demikian, penulis merasa bahwa hal tersebut telah ‘mengabdi’ pada apa yang dikatakan oleh Geertz, bahwa kebudayaan adalah rajutan makna-makna, dan manusia adalah subjek yang ‘terperangkap’ dalam jaring-jaring dari makna itu. Terperangkap dalam artian bahwa manusia adalah subjek yang memberi arti bagi makna sebuah sapaan. 

Akhirnya kita perlu memahami, merefleksikan, menafsir dan menjaga budaya terutama untuk generasi ke depan. Frame Penjaga Budaya saat ini tentu terus bergerak untuk menafsir kebudayaan. Bekerjasama dengan AjD Sahabat Budaya, kegiatan pada Senin 9 November 2020 menjadi kegiatan yang akan membuka cakrawala berpikir secara khusus kaum milenial untuk terus memperhatikan kebudayaan. Salam budaya. AjD