Prof Paula dan Sejarah Hari Batik Nasional -->
Cari Berita

Advertisement

Translate

Berita Pilihan

Prof Paula dan Sejarah Hari Batik Nasional

editor: komentar.id
Jumat, 02 Oktober 2020

Ketua TP-PKK Manado, Prof Julyeta Paula Runtuwene. (Foto: Istimewa/@Instagram)


Manado, KOMENTAR.ID


Hari Batik Nasional diperingati setiap tanggal 2 Oktober tahun berjalan. Peringatannya ditandai beragam, termasuk dengan cara mewajibkan penggunaan batik bagi pegawai instansi pemerintahan atau swasta.


Banyak juga cara sederhana dalam memaknai Hari Batik Nasional dilakukan warga. Seperti mengunggah postingan foto di media sosial, yang tentunya erat dengan nuansa batik.


Hal ini sebagaimana nampak dalam postingan Ketua TP-PKK Kota Manado Prof Julyeta Paula Runtuwene di akun Instagramnya, Jumat (02/10/2020) siang.


Sembari menampilkan foto dirinya menggunakan batik, Prof Paula juga ikut memberi deskripsi khusus di Hari Batik Nasional tahun ini.


“Cintai batik sebagai warisan budaya bangsa,” tulis Prof Paula. 


Sementara, bagaimana sejarah penetapan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional?


Diketahui pada 2 Oktober 2009 atau 11 tahun yang lalu, batik ditetapkan sebagai daftar Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO atau Warisan Budaya Takbenda (WBTb) pada sidang UNESCO di Abu Dhabi.


Melansir Kompas, penetapan itu merupakan yang ketiga kalinya bagi Indonesia setelah keris dan wayang yang terlebih dahulu masuk daftar ICH UNESCO.


Pada naskah yang disampaikan ke UNESCO, dikutip dari laman resmi Kemendikbud, batik diartikan sebagai teknik menghias yang mengandung nilai, makna, dan simbol budaya.


Dari 76 seni dan budaya warisan dunia yang diakui UNESCO, Indonesia hanya menyumbangkan satu, sedangkan China 21 dan Jepang 13 warisan.


Proses penetapannya pun terbilang cepat karena Indonesia mengajukannya ke UNESCO pada September 2008.


Pada Januari 2009, UNESCO menerima pendaftaran tersebut secara resmi dan dilakukan pengujian tertutup di Paris pada Mei di tahun yang sama.


Dari lima domain penilaian, batik memenuhi tiga domain, yaitu tradisi dan ekspresi lisan, kebiasaan sosial dan adat istiadat masyarakat ritus, perayaan-perayaan, serta kemahiran kerajinan tradisional.


(kid/kom/*)