NEW NORMAL PANDEMI COVID-19 : CABUT MAKLUMAT, KAPOLRI KELUARKAN TELEGRAM RAHASIA -->
Cari Berita

Advertisement

Translate

Berita Pilihan

NEW NORMAL PANDEMI COVID-19 : CABUT MAKLUMAT, KAPOLRI KELUARKAN TELEGRAM RAHASIA

editor: hut_kamrin
Jumat, 10 Juli 2020

Lexie Kalesaran, Pemerhati Sosial Kemasyarakatan. Foto: Istimewa

Masa berakhirnya Pandemi Covid-19 tidak/belum ada yang bisa memastikannya. WHO/World Health Organization (organisasi kesehatan dunia) sebagai lembaga resmi yang dijadikan pegangan belum bisa memastikan kapan berakhirnya virus corona yang telah mewabah in.
Kalau ada prediksi, ramalam atau apapun namanya, baik dari perorangan atau kelompok tertentu, itu tidak bisa dipercaya atau dijadikan acuan. Sebab tidak ada cukup bukti untuk penguatan informasinya.
Pelbagai upaya telah dilakukan pihak-pihak yang berkompeten/bertanggung jawab agar pandemi tersebut bisa secepatnya berakhir. Banyak langkah pencegahan/penanganan termasuk pengobatan bagi mereka yang terkonfirmasi positif covid-19,  pasien dalam pengawasan (PDP) dan orang dalam pemantauan (ODP) dan lain-lain sudah dilakukan.

Ada banyak pasien terkonfirmasi positif sembuh di samping tidak sedikit yang meninggal. ODP pun acapkali bertambah disebabkan adanya riwayat kontak dengan PDP/orang yang terkonfirnasi postif.
Di sejumlah negara melakukan lockdown sebagai langkah pencegahan penyebaran covid-19. Di Indonesia, langkah tersebut tidak diberlakukan mengingat sejumlah konsekuensi yang harus dipertimbangkan dengan masak-masak.

Di beberapa daerah di Indonesia memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) sebagai langkah pencegahan penyebaran covid-19. Bahkan, ada yang sampai harus diperpanjang.  Sementara daerah lainnya menggunakan langkah pencegahan dengan istilah/sebutan lainnya yang hanpir mirip dengan PSBB. 
Kendatipun sudah memberlakukan lock down, PSBB atau langkah pencegahan lainnya, pandemi ini belum bisa dipastikan atau diprediksi masa berakhirnya. 

Ada sejumlah sebab yang menjadi  alasan kenapa hal tersebut terjadi. Kurangnya ketaatan pada protokol kesehatan yang telah ditetapkan menjadi kunci utama penyebabnya.
Pemerintah baik Pusat, Provinsi maupun Kabupaten/Kota serta lembaga/institusi seperti Polri dan TNI telah melakukan pelbagai cara dan upaya untuk mengatasi hal tersebut. Kucuran dana yang luar biasa besarnya telah dilakukan. 
Dari pihak Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) telah cukup besar berperan dalam upaya pencegahan dan penanganan covid-19.

Selain melaksanakan tugas pokoknya sebagaimana diatur dalam UU No. 2 tahun 2002 yakni pelindung dan pengayom masyarakat serta penegakkan hukum, sejumlah upaya/kegiatan dilakukan baik dalam konteks institusi maupun perseorangan.

Beberapa upaya/kegiatan pencegahan penyebaran covid-19 seperti sosialisasi/edukasi kepada masyarakat telah berulang dilakukan. Bakti sosial (baksos) berupa pemberian sembako dan masker kepada warga terdampak dilakukan personil Polri dari rumah ke rumah (dengan tetap mengikuti protokol kesehatan seperti jaga jarak, menggunakan masker dan  mencuci tangan dengan menggunakan sabun dan air mengalir). Dana yang digunakan ada yang berasal dari institusi Polri tapi ada juga dari personil Polri sendiri.

Secara institusi, Kapolri Jenderal Idham Aziz mengeluarkan Maklumat tertanggal  19 Maret 2020 tentang kepatuhan terhadap kebijakan Pemerintah dalam penanganan penyebaran virus corona atau covid-19 yakni MAK/2/III/2020 .
Dengan adanya kebijakan Pemerintah Indonesia terkait penerapan tatanan kehidupan normal baru di tengah pandemi covid-19, Maklumat tersebut dicabut, kemudian dikeluarkan Surat Telegram Rahasia oleh Kapolri dengan nomor STR/364/VII/OPS.2/2020 tanggal 25 Juni 2020 yang ditandatangani As. Ops Kapolri Irjen Herry Rudolf Nahak.
Dalam telegram tersebut dijelaskan bahwa tidak berlakunya Maklumat Kapolri soal penanganan Covid-19, dengan alasan dalam upaya mendukung kebijakan Pemerintah Indonesia terkait dengan menjelang penerapan tatanan kehidupan normal yang baru atau New Normal di tengah pandemi Covid-19. 

Adaptasi kebiasaan baru itu  sebagaimana disebutkan dalam telegram tersebut dilakukan di daerah-daerah yang berkategori zona hijau dan zona kuning dalam rangka menghambat penyebaran virus corona yang hingga saat ini masih menunjukan kenaikan baik angka kasus positif maupun meninggal dunia.

Meskipun begitu, dalam telegram itu disebutkan, seluruh jajaran aparat kepolisian tetap diingatkan bahwa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masih harus tetap dilakukan di daerah-daerah yang masih dalam zona oranye atau daerah dengan risiko sedang serta daerah yang zona kategori merah atau memiliki risiko penyebaran masih tinggi. 

Dengan dicabutnya Maklumat Kapolri, Korps Bhayangkara tetap akan melakukan pengawasan dan pendisiplinan soal penerapan protokol kesehatan pada masyarakat. Polri akan tetap menjalankan tugasnya dalam rangka memastikan standar protokol kesehatan ke warga tetap berjalan.

Polisi tetap melakukan edukasi dan sosialisasi pendisiplinan dan pengawasan yang ketat soal penerapan protokol kesehatan menjelang pelaksanaan kehidupan normal yang baru dengan mengedepankan pendekatan humanis dan persuasif. 
Polri dan TNI akan tetap berada di 1.800 titik untuk membantu Pemerintah dalam mendisiplinkan masyarakat selama pandemi Covid-19 berlangsung. Tujuannya, agar Indonesia bisa menerapkan tatanan kehidupan normal yang baru atau new normal. 

Pengawasan dan pendisiplinan kepada masyarakat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan seperti memakai masker, jaga jarak, mencuci tangan dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat.
Polri juga akan meningkatkan kerjasama lintas sektoral dalam upaya pencegahan penyebaran covid-19, serta melakukan sosialisasi dan edukasi secara terus menerus bersama stakeholder untuk memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat.
Bagi daerah-daerah yang masih menerapkan PSBB/daerah yang masih dalam kategori oranye dan merah tetap lakukan pembatasan kegiatan masyarakat sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Pandemi covid-19 di Indonesia bisa berakhir bila ada sinergitas dari semua pemangku kepentingan.

Pemerintah termasuk lembaga/institusi terkait seperti Polri dan TNI telah berusaha semaksimal mungkin untuk upaya pencegahan maka warga pun, seyogianya ikut berperan.
Ada banyak warga sudah berperan, namun tidak sedikit warga yang masih dengan pikiran sendiri atau alasan tertentu mengabaikan protokol kesehatan yang telah ditetapkan Pemerintah.
New normal, adaptasi baru perlu perubahan sikap (menjadi lebih baik). Ikuti protokol kesehatan yang ada. Tunjukkan disiplin diri, walau tanpa harus dipaksa. (***)