5 Catatan S2 di HUT ke 397 Kota Manado -->
Cari Berita

Advertisement

Translate

Berita Pilihan

5 Catatan S2 di HUT ke 397 Kota Manado

editor: rolly_sondakh
Rabu, 15 Juli 2020

Sekretaris Komisi II DPRD Kota Manado Syarifudin Saafa. (Foto rollysondakh)

Manado, KOMENTAR.ID


Manado telah banyak kemajuan melampaui kab/kota lainnya di Sulawesi Utara.  Bahkan bila dibandingkan dengan kab/kota lainnya di kawasan timur Indonesia setelah kota Makassar 

Meski demikian ada sejumlah persoalan klasik yang belum mendapatkan solusi di usianya ke 397 tahun. Seperti diungkapkan Anggota DPRD Kota Manado Syarifudin Saafa (S2). Menurut S2, sebagai sebuah kota yang telah berusia hampir 4 abad, seharusnya persoalan dasar sebuah kota berupa infrastruktur sudah tuntas.  
"Realitasnya hari ini adalah persoalan infrastruktur itu khususnya drainase dan jalan masih membutuhkan alokasi sumber daya yang besar ke depan.  Saat ini infrastruktur kota belum ramah air.  Hujan sejenak terjadi genangan dimana-mana.  Dan tidak jarang genangan air yang deras dan bervolume besar itu menyebabkan banjir mini yang memasuki rumah rumah warga tanpa permisi," ujar Saafa.

Ditambahkan, fakta itu berdampak pada banyak aspek dan mempengaruhi banyak hal.  Mulai dari rasa nyaman dan aman masyarakat, menyebabkan keterpurukan ekonomi, kerusakan infrastruktur lainnya, serta dampak ikutan.

"Tuhan Yang Maha Kuasa menganugerahkan 5 sungai besar yang membelah kota Manado.  Sudah pasti ada hikmah besar dibalik itu semua.  Bahwa sungai-sungai itu dimaksudkan untuk membawah berkah kehidupan masyarakat. Bukan sebaliknya.  Sekali lagi bukan sebaliknya., dimana setiap tahun selalu menjadi momok menakutkan bagi warga kota terkhusus mereka yang tinggal disekitaran bantaran sungai," tutur sekretaris Komisi II DPRD Manado itu.

belum lagi kata Saafa persoalan Sampah Kota yang tidak kunjung menemukan solusi yang pasti. "Pemerintah telah bekerja keras mengatasi masalah sampah kota yang bervolume sangat tinggi.  Kerja keras itu wajib kita apresiasi, namun ada yang harus diperbaiki yakni, cara penanganan sampah kota masih berputar pada memindahkan dan dipindahkan," tukasnya.

Selanjutnya terkait penanganan Pasar  sebagai tempat saling berinteraksi aksinya masyarakat lintas latar belakang (suku, agama, ras dan budaya) yang dinilai masih memprihatinkan. Dicontohkan terhadap pengelolaan pasar dimaksud terkait dengan aspek infrastruktur pasar, manajemen pasar,  kesejahteraan pedagang, profesialisme dan kesehatan perusahaan PD Pasar dan rekayasa lalulintas serta lainnya.

"Infrastruktur pasar cukup memprihatinkan.  Apalagi bila kita bandingkan dengan pasar semacamnya di kota-kota lainnya di Indonesia.  Masih jauh dan butuh sentuhan khusus. Apalagi berbicara tentang kesejahteraan pedagang, padahal mereka berjualan sudah berbilang puluhan tahun, namun tidak ada yang berubah dari kehidupan mereka.

Kata Saafa, realitas itu hadir bukan karena kemalasan para pedagang, tapi manajemen pasar yang terlalu gemuk dengan banyaknya karyawan, hingga nampak seperti perusahan yang over obesitas.  

"Hingga kini belum sama sekali nampak pengembangan dari PD PASAR.  Padahal ada organ direksi pengembangan usaha. Jangankan diajak lari, bertahan berdiri saja serasa tak mampu menahan beban di atasnya, ini harus dirubah, apalagi bicara kontribusi kepada PAD.  Sama sekali tidak relevan. Karenanya perlu dirubah, agar pedagang sejahtera, dan perusahaan sehat dan maju," tandas politisi yang di gadang-gadang akan maju sebagai bakal calon Wakil Walikota itu.

Persoalan Kemacetan juga tidak lepas dari catatan kritis Ketua DPW PKS Sulut itu yang menjelaskan bahwa ,acet adalah wajah harian sebuah kota yang maju di Ibukota Provinsi Sulut.

"Keadaan ini membutuhkan antisipasi.  Salah satunya dengan menciptakan alternatif. Alternatif yang dimaksud adalah transportasi air.  Dimana kondisi geografis kota sangat mendukung.  Diperlukan kebijakan khusus seperti penyediaan alat transportasi air modern dan infrastruktur terminal yang memadai, maka akan sangat membantu upaya mengatasi persoalan kemacetan yang suka tidak suka pasti akan menjadi problem ke depan secara serius," pungkasnya.

***