"Tim Medis" Pahlawan di Balik Layar Peradaban -->
Cari Berita

Advertisement

Translate

Berita Pilihan

"Tim Medis" Pahlawan di Balik Layar Peradaban

editor: hut_kamrin
Minggu, 14 Juni 2020

Kristian Arkian, Penulis. Foto: Istimewa
Di tengah pandemi virus covid-19, kerja keras para tim medis patut mendapatkan apresiasi sebesar-besarnya. Di saat masyarakat lainnya berkumpul bersama keluarga, tinggal di rumah untuk menjauhi penyebaran virus, para tim medis justru berada di garda terdepan dalam menangani pandemi virus covid-19. Andaikata saat ini kita sedang berperang melawan virus covid-19, para tim medis berperan sebagai pejuang-pejuang pemberani yang berdiri tegak di baris terdepan tanpa rasa takut akan bahaya yang akan melanda dirinya.

Dengan memulai tahun yang dipenuhi gejolak akan wabah penyakit yang melanda dunia, yang memberikan rasa takut dan kegelisaan akan terinfeksi virus covid-19. Tidak sedikit masyarakat yang memilih mengehentikan segala aktifitas dan pekerjaan mereka demi melindungi diri agar tidak terinfeksi virus. Namun, dengan mengesampingkan akan bahaya tersebut, para tim medis justru tetap bertahan dalam profesinya dan memilih untuk tetap menjalankan kewajibannya sebagai tenaga kesehatan.

Jika hanya mementingkan diri sendiri, para tim medis seharusnya dapat pula melepas profesinya sebagai tenaga kesehatan dan memilih untuk tinggal di rumah dan berkumpul bersama keluarganya. Namun dengan tekad dan rasa peduli terhadap sesama, para tim medis betul-betul mendalami profesi mereka, tidak hanya sebagai pekerjaan yang membantu perekonomian keluarga, tapi didalami sebagai bagian terpenting dalam dirinya. Menjadi tenaga kesehatan didalami sebagai profesi yang mulia, yang dapat membantu menyembuhkan banyak orang, khususnya mereka yang terinfeksi virus covid-19.

Banyak sekali perjuangan yang harus mereka lewati selama pandemi ini. Dimulai dari rentannya terjangkit virus, sebab setiap hari mereka harus berinterkasi dengan pasien-pasien yang terinfeksi virus. Dengan kata lain, tim medis adalah orang-orang yang paling mudah untuk terinfeksi virus. Kemudian perjuangan dibalik baju hazmat. Dilansir dari IDNTimes (19/4/2020), penuturan seorang dokter mengenai baju hazmat. “pakai baju hazmat sangat tidak nyaman, panasnya minta ampun”, kata dr. Mohhamad Hafis Aini. Jadi coba bayangkan selama satu hari mereka menggunakan baju hazmat, rasa panas, tidak nyaman dalam bergerak, susah bernafas, dan beban yang berat, itulah perjuangan yang mereka rasakan. 

Tidak hanya itu, mereka pun harus berjuang dengan menahan rasa rindu. Rindu bertemu dan berkumpul bersama keluarga, kerabat, sahabat, dan orang-orang terdekat. Mereka terhalang akan dinding besar yang bernama corona, yang menghalangi mereka untuk bertemu orang-orang yang dicintai. Sebagai orang yang paling rentan ternfeksi virus, mereka tentu tidak mau mengambil resiko untuk menularkan virus covid-19 kepada keluarganya. Alasan inilah yang menyebabkan mereka belum dapat bertemu keluarga dan menghilangkan rasa rindu dalam waktu dekat.

Tak sampai di situ saja, bahkan beberapa tim medis harus merasakan kenyataan pahit di mana mereka tidak diterima di tempat tinggal mereka. Melansir dari Liputan6.com (25/3/2020), menuturkan bahwa dokter dan petugas RS diusir warga dari Kos di tengah pandemi covid-19. Mereka yang berjuang menyelamatkan ribuan orang yang terinfeksi virus, malah harus menerima kenyataan bahwa mereka tidak lagi dapat hidup layaknya masyarakat biasa. Beban yang mereka pikul dalam menangani virus covid-19, harus ditambah dengan beban mental dan pikiran dari sindiran warga yang tidak menerima akan keadaan yang saat ini mereka alami.

Dengan perjuangan-perjuangan tersebut, pantaslah kita menyebut bahwa tim medis merupakan pahlawan abad ini. Jasa yang mereka berikan bagi dunia patut mendapat apresiasi. Keberanian dan pengorbanan yang mereka tunjukkan memberi gambaran betapa sulitnya profesi yang saat ini mereka jalani. Tanggung jawab yang saat ini mereka pikul, menjadikan mereka manusia-manusia hebat yang membantu menyembuhkan krisis yang dihadapi dunia saat ini.

Sebagai pahlawan, mereka tidak meminta kepopuleran nama dan jabatan. Fokus utama yang mereka pikirkan saat ini adalah kesembuhan banyak orang yang terinfeksi virus covid-19. Tidak ada kata berhenti dan istirahat yang terngiang di benak mereka. Kesembuhan dunia dan banyak orang menjadi hal yang jauh lebih penting dibandingkan kepentingannya sendiri. Kerja keras yang telah dilakukan tim medis menunjukkan bahwa dunia yang sedang mengalami krisis, tetap menghadirkan sosok-sosok tangguh yang tidak termakan kegelisahan dan rasa takut.

“Pahlawan di balik layar peradaban”, bagi saya merupakan sebutan yang cocok untuk diberikan kepada tim medis saat ini. Perjuangan, kerja keras, dan pengorbanan mereka telah memperlihatkan suatu keteguhan hati dalam melewati masa-masa sulit ini. Tim medis saat ini, telah menjadi contoh dan inspirasi bagi kita semua. Mereka tetap bekerja tanpa memperdulikan apakah diri mereka dikenal oleh dunia atau tidak. Mereka seakan bekerja dari balik layar peradaban. Pribadi mereka tidak pernah terekspos sebagai pahlawan, namun hal itu tidak mematikan sifat kepahlawanan yang telah ada dalam diri mereka. Dalam hati yang tulus dan ikhlas, mereka membantu menyembuhkan sesama dan dunia. (*)

Penulis : Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng - Sulawesi Utara
Komunitas Penulis Art & Culture