Hoax Rp50 Juta, Polisi Diminta Proses Hukum Pembuat Keterangan Palsu -->
Cari Berita

Advertisement

Translate

Berita Pilihan

Hoax Rp50 Juta, Polisi Diminta Proses Hukum Pembuat Keterangan Palsu

editor: hut_kamrin
Selasa, 02 Juni 2020

Jeffrey Sorongan, Ketua PAMI Perjuangan Sulut. Foto: Dok.KOMENTAR.ID
Manado, KOMENTAR.ID -- 
Tudingan suap Rp50 juta yang dilontar beberapa pihak terhadap manajemen Rumah Sakit Pancaran Kasih (RSPK) Manado viral seketika di media sosial. Isu ini memicu kegaduhan di jagat maya, bahkan menyebar ke berbagai grup medsos. 

Ada kalangan yang resah, karena distribusi informasi awal yang keliru dan menyebabkan salah tafsir. Sehingga muncul konten tudingan terhadap RSPK di media sosial termasuk You Tube yang memperlihatkan amukan massa, Senin (2/6/2020), di RSPK Manado.

Khawatir akan ada gejolak sosial, Ketua Pelopor Angkatan Muda Indonesia (PAMI) Perjuangan Jeffrey Sorongan mendesak aparat kepolisian segera mengamankan pelaku pembuat keterangan palsu.

"Akar yang menyebabkan keributan dan pengrusakan fasilitas kesehatan ini adalah pembuat keterangan palsu. Siapapun dia yang sudah membuat keterangan palsu dan memicu gerakan anarkis, harus ditangkap dan diproses hukum. Ini merugikan semua orang yang berhak mengakses pelayanan kesehatan di RSPK," tegas Sorongan, kepada KOMENTAR.ID, Selasa (2/6/2020).

Memidanakan pembuat keterangan palsu kata Sorongan, merupakan wujud ketegasan aparat terhadap pihak yang memicu kegaduhan saat masyarakat sedang cemas karena wabah Covid-19. Persoalan layak tidaknya protab penguburan PDP menurut dia, menjadi ranah Satgas Covid-19. Tapi menegakan hukum terhadap pengrusak fasilitas kesehatan dan pembuat konten termasuk keterangan palsu adalah hak pihak yang dirugikan, di depan hukum. 

"Dengan penegakan hukum, akan kelihatan siapa yang benar dan salah. Jangan sampai masalah ini jadi sumber perguncingan terus menerus, lalu timbul gejolak di masyarakat,” tutur Sorongan.

Sorongan cukup yakin, isu suap Rp50 juta sengaja dihambur ke ruang publik untuk memancing keributan. 

"Mana ada rumah sakit sogok Rp50 juta. Apa keuntungannya? Isu ini tidak logis," singgung Sorongan.

Sebelumnya, Direktur Utama (Dirut) Rumah Sakit Pancaran Kasih Kota Manado Frangky VP Kambey M.Kes membantah isu sogokan terhadap keluarga pasien Covid-19 yang meninggal. Kambey menegaskan, pasien yang berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP) itu telah ditangani sesuai dengan prosedur oleh petugas Gugus Tugas Covid-19.

"Itu tidak benar. Hanya kebijakan kami dari rumah sakit soal pemberian intensif bagi yang memandikan dan mengkafani sekaligus disalatkan. Penanganan pasien sudah sesuai protokol kesehatan," kata Kambey.
Ia menambahkan, tidak ingin dianggap menyalahi aturan ketika tidak menjalankan prosedur bagi setiap pasien, baik ODP, PDP dan pasien yang terkonfirmasi. 

"Notifikasi diberlakukan bukan hanya bagi pasien yang masuk, meninggal juga dinotifikasi, kalau tidak kami salah. Jadi sekali lagi tidak ada sogokan, hanya miskomunikasi saja," tandas Kambey.
Diketahui, RS Pancaran Kasih telah menangani 19 pasien Covid-19 dengan menggunakan protokol kesehatan. "Sudah 19 pasien, jadi kami bukan baru kali ini menghadapi situasi seperti itu," pungkasnya. (***)