Agama Online di Tengah Pandemik Covid-19 -->
Cari Berita

Advertisement

Translate

Berita Pilihan

Agama Online di Tengah Pandemik Covid-19

editor: hut_kamrin
Senin, 01 Juni 2020

Wensislaus Fatubun, Penulis. Foto: Istimewa

Di tengah pandemik Covind-19 yang sedang kita gumuli ini, maraknya kaum beragama mempraktekan ritus keagamaannya di atau dalam (melalui) internet. Artinya hubungan manusia dengan apa yang dianggap suci, sakral, absolut, spiritual, ilahi, atau layak dihormati dilakukan melalui sarana internet. Ada migrasi dari rumah ibadah dengan simbol-simbol keagamaan yang terpasang di dalam rumah ibadah kepada ibadah virtual di internet dengan representasi visual dalam mempraktekan ibadah, perilaku moral, kepercayaan, dan partisipasi dalam lembaga-lembaga keagamaan sebagai unsur-unsur pokok kehidupan keagamaan. Inilah yang disebut agama online (online religion).

 Agama online itu tidak dimaksudkan sebagai sebuah bentuk baru dari agama dalam perspektif teologis, tetapi sebagai sebuah fenomena sosial baru yang muncul seiring dengan penemuan internet dimana kemudian menguat dalam situasi pandemik Covid-19 saat ini. Ada representasi agama dalam bentuk yang baru. Situasi pandemik Covid-19 sedang mengkondisikan tumbuh sumber agama online dalam kehidupan bersama kita. Agama online juga memperlihatkan perilaku orang dalam praktek pewartaan atau evangilisasi melalui media internet. Ada beberapa tipe yang paling umum pada aktivitas agama online termasuk informasi agama online, seperti ibadah online, e-doa dan ziarah virtual, aktivitas misionaris online, dan komunitas online keagamaan lainnya.

Diskusi tentang agama online tidak hanya menanyakan tentang fenomena agama online, tetapi bagaimana praktik dan interaksi online dalam konteks tertentu menunjukkan pergeseran pemahaman budaya yang lebih besar dalam masyarakat berbasis informasi kita. Bagian ini mempertimbangkan beberapa tema umum yang muncul dalam studi agama dan internet. Ini termasuk tema-tema teologi atau spiritualitas, agama, moralitas dan etika, aplikasi praktis atau pelayanan, tradisi keagamaan, komunitas, identitas, otoritas atau kekuasaan, dan ritual online.

Agama & internet

Selama hampir tiga dekade Internet telah digunakan sebagai ruang di mana ritual spiritual keagamaan dan kepercayaan agama tradisional dipraktekan dan dibahas. Penggunaan Internet secara religius dapat ditelusuri kembali ke awal 1980-an. Rheingold mendokumentasikan beberapa kegiatan berorientasi keagamaan pertama terjadi pada Bulletin Board systems (BBSs dengan topik “create your own religion” dalam diskusi CommuniTree, kemudian berkembang menjadi banyak forum yang terhubung dengan “jemaat kehidupan nyata” (Rheingold, 1993b: 134-135). Selama periode yang sama diskusi keagamaan online juga muncul pada Usenet ketika penggemar komputer religius mulai mengeksplorasi cara untuk menggunakan komputer dan internet dalam mengekspresikan minat religius mereka (Lochhead,1997: 46). Kelompok beragama membetuk forum online atau diskusi daring untuk membahas tentang implikasi agama, etika, dan moral dari tindakan manusia (Ciolek, 2004). 

Dari 1980-an hingga kini, kaum beragama membentuk media online yang didedikasikan untuk agama mereka. Internet telah memberi para praktisi religius cara-cara baru untuk mengeksplorasi keyakinan, iman dan pengalaman keagamaan mereka melalui situs web, ruang obrolan daring, dan grup diskusi email, whatsapp, facebook, zoom, google meet dan lain-lain. Misalnya, di tengah kondisi pandemik Covid-19 ini, komunitas Gereja Katolik, setiap hari minggu ada siaran langsung dari gedung gereja dimana terlihat seorang atau beberapa pastor melakukan ritus perayaan ekaristi dan tampak bangku-bangku diisi oleh beberapa orang saja, atau bahkan kosong. Di komunitas Gereja Protestan pun demikian, setiap minggu ada ibadah kolom, ibadah kaum bapa, ibadah remaja dan ibadah hari minggu yang disiarkan secara langsung pada laman media sosial facebook dan youtube. Kini ada banyak situs keagamaan. 

Agama online menawarkan keintiman tanpa kelembagaan

Pertanyaannya, apakah internet mengubah cara orang merasakan tentang agama? Jawabnnya: Ya, internet mengubaha cara orang merasakan tentang agama dengan membentuk agama online sebagai fenomena sosial baru yang menawarkan keintiman baru tanpa kelembagaan. 

Internet sebagai realitas sosial dan wajah demokrasi egaliter dapat mengkorelasikan orang atas pilihannya ke dalam kelompok yang sepaham. Dalam menganalisis tanggapan survei dari lebih dari 1.700 orang dewasa yang berpartisipasi dalam Baylor Religion Survey, Paul McClure berkesimpulan bahwa semakin banyak waktu yang dihabiskan seseorang di internet, semakin besar kemungkinan orang itu tidak akan berafiliasi dengan lembaga keagamaan tertentu. Orang yang menghabiskan lebih banyak waktu berinternet lebih cenderung untuk melewatkan layanan keagamaan, dan juga lebih cenderung mengambil pandangan "pluralistik" tentang agama. Dengan kata lain, mereka cenderung tidak percaya bahwa hanya satu agama yang benar. Salah satu alasan adalah internet memaparkan pengguna pada beragam pandangan dunia, kepercayaan, dan gagasan, yang dapat menyebabkan individu menantang gagasan yang sudah terbentuk sebelumnya tentang apa yang penting dalam hidup mereka. Internet adalah tempat berkembang biak yang sempurna untuk [gagasan] baru yang merusak kepastian seseorang dimana faktor kunci lain dalam pertukaran internet-agama adalah bahwa waktu yang dihabiskan online sering kali menggantikan waktu yang bisa dihabiskan di gereja. 

Migrasi praktek keagamaan dari gedung gereja ke internet di tengah pandemik Covind-19 ini mengkondisikan analisis Paul McClure. Tak rumit untuk setiap orang berpindah dari satu agama ke agama yang lain. Dengan membuka laman facebooknya atau klik youtube, kita disajihkan beragam “wajah” agama. Kita juga dapat melihat dari cara google memperlakukan pengunjungnnya dimana menyesuaikan hasil pencarian dan iklan berdasarkan riwayat pencarian sebelumnya. Kita dapat diamati praktek kaum beragama yang dimanjahkan oleh fasilitas yang disediahkan oleh facebook, whatsApp, youtube dimana menciptakan keintiman melalui menyediahkan fasilitas live streaming. Internet menjadi tempat yang sempurna bagi 'dunia-kehidupan' baru dalam agama online dimana menawarkan keintiman virtual dan menghancurkan keyakinan seseorang akan pentingnya kelembagaan agama. (*)

*Catatan: Penulis adalah filmmaker, tenaga ahli Majelis Rakyat Papua, dan anggota tim kerja Geneva for Human Rights untuk Dewan HAM PBB.