Peran Masyarakat Adat dalam Mencegah Pandemik Covid-19 -->
Cari Berita

Advertisement

Translate

Berita Pilihan

Peran Masyarakat Adat dalam Mencegah Pandemik Covid-19

editor: hut_kamrin
Selasa, 26 Mei 2020

Penulis Wensislaus Fatubun saat mengikuti sidang Mekanisme Masyarakat Adat di Kantor PBB, Geneva. Foto: Istimewa
Oleh : Wensislaus Fatubun

Per 25 Mei 2020, ada kasus 637 pasien positif, 448 orang dirawat, 178 orang sembuh dan 11 orang meninggal. Pemerintah membuat kampanye edukasi mewajibkan pakai masker, cuci tangan, jaga jarak, dan jaga kebersian, serta kebijakan untuk tutup akses moda transportasi udara dan laut, dan pembatasan jam beraktivitas di Kota Jayapura. Apa sikap dan pendapat warga dalam menghadapi pandemik Covid-19? Apa reaksi warga terhadap kebijakan pemerintah? Ada ragam reaksi warga terhadap pandemik Covid-19. 

Beberapa komunitas orang asli Papua milih berkebun demi kedaulatan pangan asli. Ada warga yang berpendapat bahwa Covid-19 tidak bisa menyerang kaum kulit hitam, dan dengan berdoa dalam nama Tuhan Yesus, Covid-19 yang lenyap. Ada sikap pro dan kontra lockdown Papua dari warga dan pemerintah. Itu dinamikanya, tetapi yang jelas kebijakan pembatasan beraktivitas di Kota Jayapura telah mengakibatkan korban kekerasan dan meninggal. 

Pada 25 Mei 2020, Justinus Silas Dimara menjadi korban meninggal dari semprotan Water Canon Patroli Covid-19 milik Polda Papua.
Dari data penyebaran pandemik Covid-19, kebijakan pemerintah dan reaksi warga, kita mendapat kesan adanya gap. Pertama; sejak pandemik Covid-19 di Papua, angka pasien positif terus mengalami peningkatan meskipun sudah ada kebijakan tutup akses transportasi dari dan keluar Papua, dan kebijakan pembatasan aktivitas di Kota Jayapura. Kedua; kampanye, instruksi dan atau kebijakan pemerintah terkesan tidak memberikan dampak yang signifikan dalam menahan laju penyebaran pandemik Covid-19. Mengapa ada gap?

Pengabaian Nilai dan Pengetahuan Masyarakat Adat Papua

Kampanye, instruksi dan kebijakan dari pemerintah terkesan tidak mengakomodir nilai-nilai dan pengetahuan adat yang dimiliki oleh komunitas-komunitas adat di Papua, dan lebih memberikan peran dominan kepada pihak militer dan polisi dalam pendekatan mengatur prilaku warga dan menjaga ketertiban umum dalam mencega penyebaran wabah Covid-19. Ada pengabaian terhadap peran masyarakat adat. 
Ini keliru, dan bukan hal baru. Misalnya pada laporan-laporan yang disampaikan oleh para peneliti di era Hindia Belanda. Verdoorn telah menggambarkan keberhasilan yang buruk dari kebijakan kesehatan dimana petugas pemerintah mengabaikan nilai-nilai hidup sehat dan mengabaikan peran pengetahuan dan emosional masyarakat adat itu telah menciptakan kegagalan menjembatani antara kebijakan pemerintah dan pendekatan kesehatan modern, seperti penggunaan fasilitas kesehatan yang disediakan oleh pemerintah (Verdoorn, 1960: 124). Swellengrebel melaporkan tentang bagaimana program perumahan yang lebih baik untuk pengendalian wabah penyakit itu gagal seiring diputuskannya subsidi pemerintah (Swellengrebel, 1915:118). Freedman mengungkapkan titik lemah dalam survei gizi di Indonesia dimana pemerintah menganjurkan konsumsi ikan oleh anak-anak sebagai makanan yang kaya protein, tetapi beberapa komunitas adat melihat ikan kurang cocok untuk anak-anak karena menyebabkan cacing dalam perut. Ada komunitas adat tertentu yang tidak mengkonsumsi ikan tertentu pada waktu tertentu, dan atau menganggap tabu untuk jenis ikan tertentu. Peters menggambarkan proyek pemberantasan malaria di Papua yang berdampak pada telah hancurnya tanaman ubi dan kebiasaan berkebun (Freedman, 1955). Dan Schofield dan Parkinson mengungkapkan pandangan kritis tentang kegunaan pos-pos pelayanan kesehatan di beberapa kabupaten di Papua. Masyarakat adat tidak percaya pada tindakan kesehatan barat. Mereka sering takut untuk menerapkan langkah-langkah ini ke dalam praktik kehidupan, karena mereka takut dengan praktek yang tidak sesuai dengan kebiasaan komunitas adatnya (Schofield dan Parkinson, 1962). 

Pada era administrasi Indonesia, pada tahun 1990an hingga kini, warga Papua juga mengahdapi masalah yang mirip dengan upaya mencegah penyebaran virus HIV/AIDS, dan berbagai penyakit lainnya. 
Kita sedang menghadapi masalah yang sama ketika masa pandemik ini. Ini memperlihatkan pemerintah tidak pernah berusaha untuk menemukan hubungan antara konsepsi masyarakat adat dan konsep kesehatan modern tentang penyebab dan penyembuhan wabah penyakit. Konsekuensinya, langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah tetap sepenuhnya di luar dunia dari ide-ide warga masyarakat. Kampanye kesehatan dari pemerintah terbukti tidak banyak berdampak, karena warga tidak dapat mengerti dengan baik makna pernyataan, poster atau pamflet, kebijakan dan saran-saran yang dikeluarkan oleh pemerintah. 

Pentingnya “Kehadiran” Masyarakat Adat

Budaya dan ilmu kedokteran perlu “dikawinkan” sehingga melahirkan saling keterkaitan antara ilmu pengetahuan, kepercayaan masyarakat, teknik kesehatan modern, peran, norma adat, nilai adat, ideologi, sikap, kebiasaan, ritual dan simbol untuk membentuk sistem yang saling menguatkan dan mendukung demi mencegah penyebaran pandemik Covid-19. Di dalam kebudayaan orang asli Papua, ada nilai-nilai dan pengetahuan yang sangat berharga untuk mencegah penyebaran Covid-19. Misalnya, dalam kebudayaan Asmat dan Kamoro dimana anggota komunitas adatnya sangat memperhatikan kebersihan. Dalam adat Asmat, oranggtua lebih sering mencuci di sungai. Mereka dengan tegas membenci siapa pun yang buang air kecil di sungai atau di dekat rawa-rawa di hutan di mana orang-orang mengumpulkan air minum mereka. Pelanggaran etika Asmat ketika memasuki rumah atau kano dengan kaki kotor. Konsumsi jenis makanan tertentu dilarang karena berbagai alasan. Umumnya satu orang atau sekelompok kecil orang terlibat dalam larangan tersebut; secara keseluruhan seluruh jew dilibatkan. Setiap bagian tubuh makluk hidup memiliki ‘jiwa’, sehingga pengalamat sakit pneyakit selalu ada hubung dengan ketidakhadiran ‘jiwa’. Nilai dan pengetahuan kesehatan dalam kebudayaan suku Asmat ini diakomodir oleh Van Amelsvoort ketika ketika bertugas merawat anggota komunitas adat suku Asmat pada tahun 1960an. Van Amelsvoort mengembangkan pendekatan akulturasi antara kebudayaan suku Asmat dan ilmu kedokteran barat dalam karya pelayanannya di Asmat. Hubungan ‘jiwa’ dan penyakit juga ada dalam kebudayaan suku Kamoro. Tentunya, pendekatan ini telah dikembangkan lebih dulu oleh dr. L.M. Veeger dalam karya pelayanan kesehatan dan program kampung sejahtera di Merauke. Bagi Malind Anim, pengalaman sakit penyakit ada hubungan dengan keretakan relasi dengan leluhur, sehingga perlu diperbaiki. Akulturasi dan pemberdayaan komunitas adat itu penting dalam mengatasi pandemik penyakit atau virus. Tahun 1954 - 1959, dr. L.M. Veeger mengembangkan program kampung sejahtera di Merauke dengan melibatkan gadis-gadis  dari suku Malind (Malind anim) dan mengawinkan ilmu kedokteran barat dengan nilai-nilai adat Malind Anim. 
Oleh karena itu, dalam menghadapi pandemik Covid-19, pentingnya kehadiran masyarakat adat Papua dalam upaya pemerintah mencegah penyebaran pandemik Covid-19. Apakah dengan kehadiran anak-anak asli Papua dalam Tim Satgas Penanggulangan Covid-19 itu adalah bentuk kehadiran masyarakat adat? Hemat saya, itu tidak cukup. Karena mereka yang terlibat sekarang ini lebih banyak memiliki hubungan dengan kepentingan politik dan kelompoknya yang tidak merepresentasi komunitas adatnya. Yang dibutuhkan sekarang adalah orang asli Papua yang mimiliki penghayatan akan nilai-nialai adat dan pengetahuan adat tentang kesehatan dalam kebudayaan komunitas-komunitas adat Papua, sehingga dapat berkontribusi, tidak hanya dalam hal mendistribusi bantuan sosial pemerintah, tetapi juga terlibat dalam memikirkan dan merancang langkah-langkah kehidupan normal baru dalam situasi pandemik Covid-19. @