KENISCAYAAN ‘NEW NORMAL LIFE’ -->
Cari Berita

Advertisement

Translate

Berita Pilihan

KENISCAYAAN ‘NEW NORMAL LIFE’

editor: hut_kamrin
Jumat, 29 Mei 2020

Ambrosius M Loho, M.Fil, Penulis

Beberapa hari terakhir, Indonesia dikejutkan oleh konsep ‘new normal life’, sebuah istilah baru, yang sejatinya tidak begitu sulit untuk dipahami. Apa itu new normal life? Dalam menjawab pertanyaan ini, penulis merujuk pada apa yang ditandaskan oleh Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmita, di laman gridhealth.id. Di sana dikatakan bahwa ‘new normal life’ adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal, namun ditambah dengan menerapkan protokol kesehatan, guna mencegah terjadinya penularan Covid-19. 

Definisi ini amat ringkas dan sederhana, tapi justru berupa ajakan wajib bagi kita agar hidup dalam sebuah ‘irama’ kehidupan ‘baru’, dengan menerapkan protokol kesehatan.
Fase ‘new normal life’, bisa dikatakan sebuah fase baru, kendati begitu hal tersebut cukup mudah dan sangat sederhana untuk dipraktekkan oleh siapa pun. Praktisnya, Geotimes menguraikan bahwa di masa ‘new normal life’ itu, pola hidup baru harus dilakukan secara serentak dan bersama-sama. Maka kuncinya ada pada kepatuhan dan kedisiplinan terhadap ketentuan yang berlaku. Dan wujudnya harus merupakan gerakan bersama, mengingat kondisi geografis Indonesia yang memiliki kultur dan cara hidup yang berbeda di setiap daerah. 
Dari uraian-uraian itu, hemat penulis, fase ‘new normal life’ adalah sebuah keniscayaan. Mengapa demikian? Dia adalah keniscayaan karena yang dituju adalah kehidupan normal ‘yang baru’. Siap atau tidak, menerima atau tidak, setuju atau tidak, itu akan tetap kita lewati. Kendati ada orang yang mungkin saja tidak paham tentang hal itu atau bahkan tidak menerima dengan mudah model hidup ‘new normal life’, tapi itu adalah sebuah kondisi riil yang akan kita alami dan jalani. 

Ditu, dapatlah dikatakan bahwa jika kita berada dalam kondisi demikian, sesungguhnya kita berada dalam situasi yang sebetulnya sedang ‘sakit’ atau katakanlah, tidak normal. Sebagai perbandingan, dalam kaitan dengan situasi bahwa kita ‘tidak normal’, seperti waktu-waktu sebelumnya, penulis mengangkat ide dasar dari Rinto Namang yang digoreskannya dalam salah satu aritikel berjudul ‘Sakit & Pengalaman Eksistensial’. Menurutnya, sakit adalah pengalaman eksistensial. “Di hadapan rasa sakit itu, kita disarankan untuk bersikap hati-hati dan tidak terburu-buru mencari penjelas, sebab barangkali rasa sakit yang datang itu merupakan tanda untuk masuk ke dalam suatu kedalaman. Kedalaman yang ditandai kemampuan orang untuk mentransformasi rasa sakit yang absurd itu dengan rasionalitas manusia.  Demikian pun, ketika berhadapan dengan rasa sakit, individu hendaknya tidak terburu-buru untuk langsung menerimanya sebagai takdir yang harus dipikul. (Namang, 2014). 

Berkaca pada konsep Nietzsche, Namang mengatakan bahwa pengalaman rasa sakit bisa menjadi titik pijak untuk masuk dalam ‘kedalaman realitas kehidupan’. Pengalaman sakit dalam kehidupan menjadi sebuah locus atau kesempatan berfilsafat (berpikir-berefleksi). Segala bentuk rasa sakit itu, bersifat tidak teratur tepi bisa diubah menjadi sesuatu yang teratur dengan sikap berani, tanpa sedikit pun ada ketakutan. Maka, kesadaran akan realitas, selalu mentransfigurasi segala hal untuk semakin dalam menyelami realitas yang ada itu. jadi pengalaman rasa sakit, justru bisa dipandang sebagai kesempatan untuk berefleksi tentang realitas kehidupan yang akan dijalani. 

Di mana kaitan penting antara fakta sakit sebagai pengalaman eksistensial dengan fase ‘new normal life’? Menurut pemahaman penulis, ketika kita ada dalam fase ‘new normal life’, faktanya kita juga masih dalam kondisi sakit. Kondisi di mana memang kita ‘tidak normal’ seperti sebelumnya. Maka dalam kondisi yang sama, kita pun tidak bisa berpasrah saja, tetapi sesungguhnya dan seharusnya perlu masuk ke ‘kedalaman’, berpikir dan menemukan serta mengupayakan sebuah cara berpikir dan berefleksi tentang pengalaman hidup dan tidak bersikap pasrah pada keadaan.
Sejalan dengan itu, maka langkah pemerintah untuk menyambut (menjalani) fase ‘new normal life’ ini, bukan sebuah pengalaman kepasrahan pada keadaan. Kendati itu tidak bisa dijadikan acuan untuk mengatakan bahwa pemerintah tidak punya jalan keluar lagi dalam mengatasi mewabahnya pandemi covid19. 

Terlepas dari itu, penulis dalam kapasitas yang masih terus mengamati dan sedikit [mulai] menganalisis, mengapa hal itu (new normal life) menjadi solusi di saat orang yang terkonfirmasi covid19 masih terus saja bertambah, memiliki keyakinan bahwa yang terpenting sekarang kita tidak menyerah pada keadaan, tidak pula mengeluhkan situasi ini, tetapi tetap berkerja keras, dan mendukung segala upaya untuk  menangkal penyebaran virus ini semakin massif. 

Jadi, dapat disimpulkan bahwa kehidupan harian kita, akan ditentukan oleh upaya-upaya untuk mengelola pandemi ini. Dampak sosial virus akan sangat besar, pada saat yang sama pun, kemampuan kita untuk fokus, untuk merasa nyaman di sekitar orang lain, bahkan untuk berpikir lebih jauh ke depan selalu dimungkinkan. (https://digitalaerolus.com/new-normal-post-pandemic/). 

Theresa Nutten, seorang terapis dari Purdue University, mengatakan: Saya berharap bahwa ketika ada dalam situasi seperti ini (new normal life), anda mulai melihat bahwa anda tidak sendirian dalam proses adaptasi penyesuaian dengan ‘new normal life’. ‘New normal life’ adalah sebuah keniscayaan. (*)

Penulis : Dosen Universitas Katolik De La Salle Manado - Pegiat Filsafat