BERSAHABAT DENGAN SENI BUDAYA MELALUI GOTONG ROYONG -->
Cari Berita

Advertisement

Translate

Berita Pilihan

BERSAHABAT DENGAN SENI BUDAYA MELALUI GOTONG ROYONG

editor: hut_kamrin
Jumat, 29 Mei 2020

Dominica Diniafita, Penulis.
Setiap daerah atau sebutlah suku bangsa, atau sub etnis, terdapat banyak tradisi, tak kurang dari puluhan tradisi ada dalam setiap sub etnis. Dalam seluruh tradisi, kegiatan bersama seperti gotong royong terus menerus dipraktekkan. Karena masing-masing individu dalam sub etnis itu, hidup bersama dalam satu kesatuan. Kegiatan gotong royong dalam semua tradisi di daerah-daerah di Indonesia itu pun tidak berbeda satu dengan yang lain. Intinya tradisi bergotong royong atau bekerja bersama ini tentu menekankan sisi penting yakni saling membantu dan bekerja sama demi kehidupan bersama. 

Tulisan ini akan menguraikan tentang substansi dari gotong royong, bertolak dari tiga tradisi yang penulis amati, yakni tradisi Bali, Jawa dan Manado. Dalam praksis di Bali, gotong royong merupakan kegiatan yang dilakukan ketika membersihkan lingkungan pura, membersihkan lingkungan sekitar tempat tinggal, termasuk kegiatan-kegiatan yang diadakan di desa. Gotong royong di Bali biasanya disebut ngayah yang dilakukan dengan rasa tulus ikhlas dan dianggap sebagai wujud penerapan ajaran karma marga (berbuat baik). Ngayah juga bisa dilakukan untuk kegiatan ritual keagamaan, atau kegiatan adat setempat. Selain itu, ngayah juga adalah wujud ajaran Trihitakarana (tiga penyebab kebahagiaan), parhyangan (hubungan manusia dengan tuhan), pawongan (hubungan manusia dengan manusia), palemahan (hubungan manusia dengan lingkungan alam).

Sementara dalam tradisi Jawa, sejauh pemahaman penulis, mengedepankan teori rasa, tepo seliro. Kegiatan yang dilakukan dalam gotong royong, diyakini berasal dari teori rasa itu, berasal pula dari keluhuran budi pekerti. Maka karena berasal dari budi pekerti, maka itu setiap individu mampu ber-tepo seliro. Di sisi lain, sebuah tindakan gotong royong ini, tidak mutlak menunjuk pada materi, melainkan juga merupakan wujud dedikasi, tenaga pikiran, waktu, dll. Ada keyakinan dengan praktek seperti ini, masyarakat atau individu-individu itu, merasakan makna dan manfaatnya. Dengan demikian, keyakinan selanjutnya adalah bahwa bukan banyaknya yang terlibat dalam gotong royong, tapi justru pada spirit yang tidak pernah luluh. Di dalamnya ada semangat dan passion untuk melakukan. 
Fakta terkini tentu tak terkatakan dan tak terbayangkan lagi. Makin tersebarluasnya wabah covid19, makin banyaknya korban yang terkonfirmasi, dan makin tingginya kemungkinan individu terserang covid19, menjadikan semua orang bergerak cepat, dengan berbagai cara untuk menangkal lajunya penyebaran covid19 ini. Itu fakta yang terpentas kini.

Berangkat dari situ, penulis mengamati bahwa semua orang terdampak wabah ini, bahkan banyak pekerja yang harus ‘dirumahkan’, didalamnya juga ada para pekerja seni dan budaya. Dan itu tersebar di bebagai daerah di seantero Indonesia. Sebagai orang yang terus berupaya untuk mendalami nilai-nilai budaya dan berkegiatan kebudayaan, meyakini bahwa salah satu cara adalah meringankan beban dari para pekerja seni budaya itu. Dan cara untuk mengatasinya, hemat penulis adalah bergotong royong. 

Gotong royong menjadi kunci dan sekaligus inti dari pemulihan kehidupan masyarakat Indonesia terkait dengan dampak pandemi Covid-19. Masyarakat Indonesia harus meyakini hanya dengan cara gotong royong pemulihan kehidupan sosial dapat dipercepat. Pada saat bencana nasional seperti inilah gotong royong sebagai nilai luhur bangsa Indonesia akan dirasakan manfaatnya oleh semua lapisan masyarakat. 
Menurut keyakinan penulis, dengan bergotong royong, makna “sahabat budaya” dalam situasi saat ini, sangat kental terasa terbangun budaya baru. Mengingat pekerja seni dan budaya adalah pelestari ketahanan budaya Indonesia. Pandemi Covid-19 menjadi ancaman semua orang tanpa melihat strata, suku, agama, kaya atau miskin, ataupun golongan. Dan para pekerja seni dan budaya tidak luput dari musibah tersebut sama halnya seperti semua orang terkena dampak dari pandemi tersebut. Di tengah pandemi Covid-19, kita bisa menularkan semangat gotong royong dari hal yang sederhana dan tidak melulu materi. 

Dalam kondisi sekarang ini, kebutuhan pokok sangat diperlukan karena banyak orang tidak dapat bekerja karena adanya covid ini. Orang membutuhkan uluran tangan pihak lain untuk bertahan. Dan, kita tidak tahu sampai kapan pandemi ini akan berlangsung. Ada masyarakat tertentu yang kesulitan karna nyatanya harus menghadapi dua ancaman yang sangat serius yakni bertahan hidup dan bertahan dari ancaman pandemi itu sendiri.  Dengan gotong royong setidaknya, kita membantu masyarakat yang terdampak untuk bertahan hidup.

Belajar dari beberapa ide dasar sang penulis dan pembelajar filsafat, Ambrosius Loho, penulis merasa terkesan dengan salah satu kebiasaan yang sebetulnya kental dengan nilai kegotongroyongan di Minahasa, yang dihidupi oleh orang Minahasa. Di Minahasa, khususnya sub etnis Tombulu ada kata-kata tua/leluhur, yang merupakan kebiasaan-kebiasaan seperti yaini Maesa-esaan (saling bersatu padu) maleos-leosan (saling bersikap baik), masigi-sigian (saling menghormati), masawa-sawangan (saling membantu). (https://www.mirifica.net/2020/05/26/bahasa-dan-kehidupan-refleksi-di-hari-komunikasi-sosial-sedunia-2020/). Dalam pengamatan penulis, kebiasaan-kebiasaan yang kental di Minahas ini, berlangsung secara turun temurun. Dari kebiasaan-kebiasaan ini, semua orang berkomitmen untuk menjalankan amanat tersebut, menjiwainya, serta melaksanakannya dengan sungguh-sungguh, karena itu dianggap sebagai pedoman hidup. (Bdk. Loho 2020: 15).

Dengan demikian, maka untuk ukuran tertentu, bergotong royong dalam ketiga tradisi yang telah diuraikan memiliki spirit dan locus yang sama, yang bukan hanya mirip tapi dipandang sama. Berjalan bersama, bergotong royong, dan senasib sepenanggungan. (*)

Mahasiwa Program Doktoral Universitas Hindu Indonesia-UNHI Denpasar, Pegiat Budaya