Untuk Sesajen, Bali Sering Gunakan Daun Woka asal Boltim -->
Cari Berita

Advertisement

Translate

Berita Pilihan

Untuk Sesajen, Bali Sering Gunakan Daun Woka asal Boltim

editor: dax_dacko
28 April 2020

Salah satu upacara adat di Bali. Sesajen yang dibawa menggunakan hiasan daun woka. (Istimewa/Komentar.ID)

Boltim, KOMENTAR.ID

Tidak banyak yang mengetahui bahwa Kabupaten Bolaang Mongondow Timur adalah salah satu produsen bahan baku daun palem atau daun woka.

Bahkan daun woka yang biasanya digunakan sebagai pembungkus gula aren (gula merah), kue waji atau kue dodol, ternyata juga sering dijadikan wadah sesajen untuk upacara ritual di Bali.

Daun woka dari hutan di Tutuyan Kabupaten Boltim ini pun laku keras dilirik pengusaha di Bali.

“Banyak permintaan daun woka dari sini untuk kebutuhan upacara ritual keagamaan dan adat di Bali sebagai wadah dalam memberikan sesajen,“ ujar Aprianto pedagang pengumpul daun woka saat ditemui di Tutuyan, Selasa (28/4/2020).

“Daun woka saat ini sudah menjadi salah satu kebutuhan utama dalam acara ritual keagamaan di Bali,” tambahnya.

Untuk memenuhi stok tersebut pihaknya menggandeng warga sekitar Tutuyan bahkan sampai di Nuangan dan Desa Matabulu hingga dekat ke perbatasan Kabupaten Bolsel.

"Kami menggunakan tenaga lokal untuk mencari tanaman woka ini guna memenuhi stok bahan baku yang dikirim ke Bali,” ungkapnya.


Yudhi Aprianto warga asal Pulau Lombok mengatakan, dipilihnya Tutuyan Boltim karena dirinya sudah lama menetap di daerah ini dan mengetahui lokasi hutannya banyak menyimpan pohon palem jenis woka.

Yudhi menambahkan nantinya daun woka ini akan dikirim ke Sulawesi Tengah dengan kendaraan truk kemudian dikirim via laut ke Bali.

“Dalam sebulan kita satu kali melakukan pengiriman sesuai permintaan. Untuk harga, tergantung jarak dan lokasi, tetapi rata-rata perbiji Rp1500-1750 per lembar bayar di tempat, tergantung kualitas dari woka itu sendiri,” katanya.

Dia mengatakan paket pengirimannya akan lebih bagus jika sudah dikeringkan terdahulu.

“Sesudah dikeringkan, dicuci kemudian memasukannya ke dalam air dengan suhu panas mendidih sambil mencampurkan dengan bahan pengawet agar tidak dimakan rayap kemudian dianginkan lagi,” sebutnya.

Yang pasti bahan Woka ini menurut dia menjadi kebutuhan utama yang digunakan dalam upacara adat saat pemberian sesajen di Bali.

***