Subhanallah! Sebagian Warga Bertahan dengan Bantuan Anggota DPRD Manado -->
Cari Berita

Advertisement

Translate

Berita Pilihan

Subhanallah! Sebagian Warga Bertahan dengan Bantuan Anggota DPRD Manado

editor: hut_kamrin
Sabtu, 11 April 2020

Jeane Laluyan, anggota DPRD Manado. Foto: Dok. KOMENTAR.ID

Manado, KOMENTAR.ID —
Pandemi Covid-19 memaksa warga mengurung diri di rumah masing-masing. Kondisi ini menyebabkan warga kehilangan pekerjaan sekaligus pendapatan. Warga mulai mengeluh, karena perang melawan Covid-19, baru sebatas cuci tangan, pakai masker dan semprot desinfektan. Persoalan paling krusial menurut warga adalah perut. Anak-anak, lansia dan ibu hamil yang paling rawan jika perut sedang ‘keroncong’ (lapar).

“Cuma masker dan cuci tangan tidak cukup,” ujar Sony, warga Mapanget, Sabtu (11/4/2020), di Manado.

Sebagian warga mengaku, dalam kondisi yang tidak pasti, mereka harus bertahan dengan bantuan bahan makanan dari beberapa anggota DPRD yang sejak awal ikut berbelarasa.

“Kami berterima kasih ke anggota dewan Manado dari PSI, ibu Jurani Rurubua. Dapat beras dan telur ayam. Rupanya ada ribuan warga Mapanget yang dapat bantuan beliau,” ungkap Sony.

Di daerah Wenang dan Wanea, warga sempat menerima bantuan 5 kilogram beras, minyak goreng dan super mie dari legislator PDIP Jeanne Laluyan. “Sudah coba cari penumpang angkot, satu hari cuma dapat 70 ribu. Habis di bensin. Untung istri bilang, ada bantuan dari ibu Jeanne Laluyan. Syukur. Saya kenal orangnya. Cerewet tapi hatinya tulus, baik,” kata Fanny, sopir angkot Wanea Samrat.

Adalagi beberapa anggota DPRD Manado yang kata warga, sudah menebar stimulus makanan ke masyarakat. “Kami di Winangun sudah terima dari ibu Nortje Van Bone. Ada bahan makanan juga. Yah syukuri apa adanya. Sambung hidup sementara waktu,” kata Cale, warga Batukota.

“Ada sih bantuan dari anggota dewan. Beras 5 kilogram dan daging babi. Tapi pesan beliau, jangan bilang-bilang ke media nanti dianggap cari panggung. Pokoknya dia anggota dewan Manado,” sambung Deni, tukang ojek Malalayang Satu.

Lantas bagaimana dengan bantuan pemerintah yang diinstruksikan Presiden Joko Widodo? “Kami belum tahu pak (wartawan,red). Yang kita dengar selama ini baru judul, akan ada bantuan. Ya judul status orang di facebook,” sentil Rommy, warga Tikala Baru.

Warga merasa janggal dengan urusan administrasi yang terlampau lamban dan seolah-olah serba baru. Padahal database sudah ada di tingkat kelurahan, kecamatan dan dinas terkait. “Sudah satu bulan, bahasa yang keluar sementara didata, verifikasi, validasi, sosialisasi, segala macam ‘sasi’. Padahal daerah yang lain seperti Talaud, Boltim, Minut, Minahasa dan Bolmong sudah,” beber Ronny Lumempow, warga Karombasan, Manado.

Anggota DPRD Manado Jeanne Laluyan berharap, ada kebijakan yang mempercepat penanganan masalah bahan makanan untuk masyarakat. “Data itu harusnya sudah ada. Ini soal perut. Kita tidak bisa menunda urusan kalau rakyat memang lapar. Kami di DPRD juga kerja, turun bawa bantuan. Dan kami tahu, situasi ini tidak cukup dengan anjuran cuci tangan, pakai masker. Rakyat butuh makanan dan harus cepat. Jangan data jadi alasan. Terlalu lama di perbaikan,” jelas anggota Fraksi PDIP ini.

Mengenai bantuan bahan makanan, beberapa kepala daerah di Sulawesi Utara sudah menyalurkan cadangan beras pemerintah (CBP) ke masyarakat. Tak cukup menghabiskan waktu dengan membagi-bagi masker, Bupati Talaud Elly Engelbert Lasut pada tahap pertama mengirim 12 ton ke warga Kabaruan dan Damau. Lalu Bupati Minut Vonny Aneke Panambunan menurunkan bantuan tahap satu berupa beras 50,07 ton, 20 ribu ikan kaleng dan 7000 kilogram gula. Demikian pun Bupati Boltim dan Salim Sehan Landjar dan Bupati Minahasa Royke Oktavian Roring. Keduanya sementara menurunkan bantuan ke warga sesuai arahan Mendagri Tito Karnavian memanfaatkan anggaran daerah secara cepat, tepat dan terukur. “Mereka kepala daerah yang memang terlatih memahami dampak bencana,” kata Jems Fernando, aktifis Sulut. (***)