Pandemi Global Mirip Covid-19 Muncul di Indonesia, Ada di Novel The End of October -->
Cari Berita

Advertisement

Translate

Berita Pilihan

Pandemi Global Mirip Covid-19 Muncul di Indonesia, Ada di Novel The End of October

editor: hut_kamrin
30 April 2020

Lawrence Wright, penulis The End of October. Foto: AFP/Tommaso Boddi
Jakarta, KOMENTAR.ID --
Dunia sedang bergumul dengan salah satu bencana kesehatan terburuk dalam sejarah. Pandemi COVID-19 yang terjadi akibat virus Corona diketahui bermula di kota Wuhan, China. Namun, apa jadinya bila sebuah pandemi serupa terjadi, kali ini Indonesia menjadi asal virus pemicunya?

Setidaknya itu yang terbayang dalam imajinasi Lawrence Wright ketika menulis novel 'The End of October'. Buku ke-12 karya jurnalis sekaligus penulis pemenang Pulitzer Prize itu dirilis pada Selasa (28/4/2020).

Penulisan 'The End of October' sudah rampung pada pertengahan tahun lalu. Maka betapa kagetnya dia ketika cerita di novel tersebut seakan menjadi kenyataan. Sebuah virus baru muncul di benua Asia pada akhir 2019, lalu mewabah ke seluruh penjuru dunia dan menimbulkan kekacauan di tatanan sosial, ekonomi, bahkan politik sekalipun.

"Rasanya agak mengerikan, mengimajinasikan sesuatu yang buruk di masa depan, lalu terjadi lebih parah di kehidupan nyata," tulis Lawrence di kolom opini The New York Times, baru-baru ini.

Selain itu, ada sensasi deja vu tersendiri yang dirasakan pria 72 tahun tersebut. Pada 1998, Lawrence berkesempatan menulis skenario film 'The Siege' yang dibintangi Denzel Washington, Annette Bening dan Bruce Willis. Film tersebut berkisah tentang upaya teroris dari kaum Islam radikalis menyerang New York City. Tiga tahun kemudian, terjadilah tragedi '9/11'.

'The Siege' yang tadinya gagal di Box Office, lalu menjadi salah satu film yang paling banyak disewa di AS setelah serangan teroris terburuk dalam sejarah tersebut. "Sekarang, sembari membaca koran dan menonton berita, saya merasakan sensasi yang sama ketika melihat kembali adegan-adegan yang pernah saya tulis," tambah penulis buku 'The Looming Tower: Al-Qaeda and the Road to 9/11' itu.

Entah kebetulan atau tidak, tapi yang pasti Lawrence mempertegas bahwa dirinya bukanlah peramal. Apa yang tampak seperti ramalan merupakan buah dari penelitian yang kuat.
Dengan latar belakangnya sebagai jurnalis, ia terbiasa membuat tulisan-tulisan yang diolah berdasarkan fakta-fakta dari berbagai riset. Hal yang sama ia terapkan saat menulis literatur, termasuk yang bergenre fiksi.

Maka dalam menciptakan 'The End of October', ia mewawancarai mereka yang berkepentingan dalam bidang kesehatan. Seperti dokter, ilmuwan dan peneliti, tanpa terkecuali perawat. Beberapa di antaranya, kata Lawrence, saat ini menjadi garda terdepan dalam menghadapi krisis COVID-19.

Adapun ide untuk membuat novel ini sebenarnya bermula dari perbincangan santainya sekitar 10 tahun lalu dengan Ridley Scott, produser dan sutradara kenamaan Hollywood di balik film-film blockbuster seperti Alien, Gladiator dan Black Hawk Down.

Kala itu, Ridley bercerita tentang novel apokaliptik karya Cormac McCarthy yang berjudul 'The Road'. "Dan pertanyaannya untuk saya, 'Apa yang akan terjadi?' Saya selalu suka ketika ada orang yang menanyai saya dengan pertanyaan seperti itu," kata dia kepada New Yorker.

Oleh Ridley, Lawrence diminta untuk menulis alur cerita sebuah film tentang hancurnya peradaban manusia seperti di novel tersebut. Pernah bertugas di desk kesehatan ketika mengawali karier sebagai jurnalis, Lawrence terbayang tentang pandemi. Menurutnya, pandemi adalah alasan yang paling logis untuk menghancurkan sebuah peradaban.

Pemikiran tersebut lalu membawanya pada pandemi flu Spanyol pada 1918 yang memakan korban hingga 50 juta jiwa di seluruh dunia. Flu tersebut lantas menginspirasi Lawrence untuk memunculkan virus 'fiktif' bernama Kongoli Flu di 'The End of October'.

Menariknya, Indonesia menjadi pilihan Lawrence sebagai tempat pertama kali virus itu ditemukan. Dalam imajinasinya, Kongoli Flu muncul di sebuah kamp pengungsian.

"Indonesia sering mempersekusi kaum homoseksual dan saya membayangkan di sana ada sebuah pusat penahanan di mana sejumlah pengidap HIV/AIDS dan sistem imun mereka dipertaruhkan. Dan di situasi seperti itu, muncul sebuah virus baru, seperti flu yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan tiba-tiba menular ke mana-mana dan mengancam populasi dunia," terang Lawrence yang mendidasikan buku tersebut bagi para tenaga medis COVID-19.

Di era modern seperti saat ini, dengan pergerakan miliaran manusianya yang sangat dinamis, seberapa cepat virus tersebut menjangkit? Berapa banyak korban yang berjatuhan? Bagaimana dampaknya pada ekonomi?

Pertanyaan tersebut yang coba dijawab oleh sang pahlawan di novel tersebut, yakni Henry Parsons. Ia diceritakan sebagai ahli mikrobiologi utusan organisasi kesehatan dunia WHO dan CDC (Centers for Disease Control and Prevention).

Situasi menjadi genting ketika supir Henry di Indonesia terinfeksi virus tersebut dan membawanya ke Mekkah saat menunaikan ibadah haji di mana jutaan jemaah berkumpul dari seluruh dunia. Kemungkinan akan adanya 'gelombang kedua' dari virus tersebut turut disinggung Lawrence di novelnya ini.

Seandainya saja novel 'The End of October' hadir jauh-jauh hari lalu, mungkin kita sudah lebih siap menghadapi pandemi COVID-19 yang saat ini sudah menelan 216 ribu jiwa secara global.

(Artikel asli: Daniel Ngantung/detik.com)