Kisah Horor Sopir Ambulance Jenazah Pemkot Manado: Klakson Sirine Sering Bunyi Sendiri -->
Cari Berita

Advertisement

Translate

Berita Pilihan

Kisah Horor Sopir Ambulance Jenazah Pemkot Manado: Klakson Sirine Sering Bunyi Sendiri

editor: jandry_kandores
17 April 2020

Roy Takumansang, tenaga honorer Pemkot Manado, spesialis driver ambulance jenazah. (Kolase Foto Komentar.ID)

Manado, KOMENTAR.ID

Royke Takumansang, merupakan tenaga honorer Pemerintah Kota Manado. Posisinya sebagai driver ambulance jenazah, tidak tergantikan hingga kini. Sudah ribuan jenazah Warga Kota Manado, diantarnya ke liang lahat.

Sejak zaman Walikota Manado Jimmy Rimba Rogi, Roy dipercayakan sebagai driver khusus untuk mengemudikan mobil ambulance jenazah milik pemerintah.

Dia harus standby 1x24 jam, untuk melayani tugas negara: mengantar jenazah. 

Tugas yang diembannya itu, mengharuskan dia tetap fit, baik fisik maupun mental. Sebab, sesekali dia terpaksa harus mengantar jenazah hingga ke lokasi yang jauh.

“Paling jauh pernah ke Palu. Saat ke sana banyak mobil yang ikut di belakang, mar pas bale, kita cuma sendiri,” ungkap Roy membuka percakapan bersama wartawan di Kantor Pemkot Manado, Kamis (16/04/2020) kemarin.

Roy mengaku tak mampu menghitung jumlah jenazah yang telah di antarnya. “Mungkin sudah 1000 jenazah,” sebut Roy memerkirakan.

Roy, ditemui wartawan di sayap kiri Kantor Pemkot Manado. (Jandry Kandores-Komentar.ID)

Awalnya dia mengaku tidak terbiasa. Apalagi ketika harus pulang nyetir seorang diri mobil ambulance dari lokasi pekuburan.

“Kalo lokasi kuburnya jauh, pasti kita pulang malam. Nah, tu malam-malam begini yang ja beking tegang di perjalanan. Kalo pulang masih sore, kita lebe santai,” celetuknya.

Roy mengaku paling parno ketika mengetahui jenazah yang dibawanya, meninggal karena hal tidak lazim. 

Istilah orang Manado: mati mantah. Meninggal karena tidak wajar. Seperti gantung diri, karena kecelakaan atau bunuh diri.

“Kalo mo antar jenazah karena mati mantah, pas kita pulang, pasti itu oto (ambulance) ba spok. Ja ba aneh-aneh. Kadang klakson ba bunyi sendiri, sirine bunyi deng manyala sendiri, atau lampu sein nyanda sontong manyala sendiri,” ceritanya.

Ketika mendapati hal aneh tersebut, Roy mengaku sering berbicara sendiri. Dia berbicara sekaligus menegur karena mengetahui ulah itu adalah ulah dari arwah yang dibawanya.

“Kita cuma ja bilang, kita so antar pa ngana deng selamat, sekarang kita mo pulang jang ganggu pa kita. Ba jaoh jo ngana,” kelakar Roy sembari tertawa.

Setelah mengucapkan ‘mantranya’ itu, keadaan ambulance kembali menjadi normal. Sirine dan klakson tidak lagi nyala atau bunyi sendiri.

Sudah belasan tahun Roy menekuni profesinya sebagai tenaga honorer Pemkot Manado menjadi spesialis driver ambulance jenazah.

Dia mengaku tidak pilih-pilih jenis jenazah dan lokasi pekuburan ketika hendak menjalani tugasnya itu. 

Namun, ada satu yang kini Roy takuti. Apa itu? Itu adalah ketika harus membawa jenazah Covid-19.

“Kalo itu kita tako skali. Biar mo pake baju astronot leh. Belum pernah. Baru kita pe teman sopir satu yang pernah bawa jenazah Covid. Kalo kita, kita nimau sto, biarleh mo semprot,” seloroh Roy, mengakhiri.

Salah satu ambulance milik Pemkot Manado. (Jandry Kandores-Komentar.ID)

Pemkot Manado diketahui punya lima mobil ambulance jenazah, satu di antaranya milik Dinas Kesehatan Kota Manado. 

Dan menurut Roy, satu di antara mobil ambulance jenazah, sudah ada yang sempat mengangkut jenazah Covid-19.

(yha)