Corona Lebih Sadis dari Krismon 1998, Bupati Boltim Ajak Warganya Tanam Poki-poki -->
Cari Berita

Advertisement

Translate

Berita Pilihan

Corona Lebih Sadis dari Krismon 1998, Bupati Boltim Ajak Warganya Tanam Poki-poki

editor: dax_dacko
24 April 2020

Bupati Boltim, Sehan Landjar SH. (Daud Timpal-Komentar.ID)

Boltim, KOMENTAR.ID

Bupati Kabupaten Boltim Sehan Landjar SH mengimbau masyarakatnya untuk manfaatkan tanah atau lahan kosong dengan melakukan penanaman sejumlah bahan baku makanan, berupa ubi kayu, ubi jalar (batata), jagung, cabe, jahe sayur kangkung termasuk poki-poki dan jenis lainnya.

Imbauan ini ditujukan guna mengantisipasi krisis pangan yang bisa saja terjadi imbas hemparan Covid-19.

“Saya melihat saat ini kita sedang memasuki krisis panjang, di mana akan terjadi penurunan daya beli di masyarakat. Perhitunganya diprediksi sampai tahun 2021 nilai beli masih minim, bahkan untuk memulihkan ekonomi rakyat recoverinya dipastikan hingga 2023 mendatang,” sebut Sehan Landjar kepada KOMENTAR.ID, di Boltim, Jumat (24/04/2020).

Industri lokal menurutnya akan lesu. UMKM dinilainya berpeluang bangkrut serta meningkatnya keterlambatan pembayaran pihak bank maupun swasta dan berujung pada kerepotan ekonomi nasional.

Eyang sapaan akrab Sehan Landjar kemudian membandingkan krisis moneter tahun 1998 dengan persoalan pandemi Covid 19 saat ini. Menurutnya situasi saat ini justru lebih jahat.

“Krisis moneter di waktu itu berbeda dengan corona saat ini. Kalau dulu krisis moneter, negara kita kekurangan uang akibat ditipu oleh pengusaha asing. Tetapi rakyat masih punya uang, apalagi khusus di Sulut, banyak warga yang memiliki hasil bumi berupa pala dan cengkih ikut naik sampai 300 persen sehingga tidak terjadi inflasi. Meski Bank Indonesia ikut melemah tetapi rakyat di Sulut waktu itu masih terkendali perekonomiannya, tetapi sekarang, rakyat tidak punya uang di saat negara sedang sakit serta akibat tidak adanya devisa seperti negara lainnya di Asia,” seloroh Eyang.

Dampak dari itu semua menurut Eyang membuat rakyat kehilangan sumber pendapatan, karena jika sebelumnya negara hanya menjual surat berharga tetapi sekarang negara justru ikut menjual utang.

***