Berasal dari Laut, Ikan Mujair Pertama Kali Ditemukan Pria Blitar -->
Cari Berita

Advertisement

Translate

Berita Pilihan

Berasal dari Laut, Ikan Mujair Pertama Kali Ditemukan Pria Blitar

editor: hut_kamrin
19 April 2020

Mbah Moedjair, penemu ikan mujair.  Foto: Istimewa
Manado, KOMENTAR.ID --
Kamu penikmat masakan ikan mujair? Lidah pemburu kuliner rasanya begitu akrab dengan mujair bakar, mujair goreng, pepes mujair dan mujair woku (masakan Manado). Tapi pernahkah kamu mengetahui asal usul, kapan dan siapa penemu ikan tersebut? Lantas kenapa ikan itu diberi nama Mujair?

Sebuah penemuan memang kerap diberi nama sesuai nama penemunya, termasuk ikan mujair. Pria bernama Moedjair adalah penemu ikan yang enak dan populer ini.

Terungkap asal usul nama ikan mujair yang ternyata menggunakan nama penemunya. Pria asal Blitar yang biasa disapa Mbah Moedjair ini menemukan ikan mujair sekitar tahun 1939.
Penghargaan yang diterima Mbah Moedjair. Foto: Istimewa
Mbah Moedjair yang punya nama asli Iwan Dalauk ini tinggal di Desa Kuningan, dekat Kota Blitar. Ia menemukan ikan mujair saat menangkap ikan di muara sungai Serang Selatan, Blitar. Ikan ini aslinya hidup di perairan asin alias di laut.

Ide untuk membudidayakan ikan ini berasal dari rasa penasaran Mbah Moedjair. Ia melihat ikan ini unik karena induk ikan memasukkan anak-anaknya ketika merasa terancam. Saat sudah aman, anak ikan akan dikeluarkan lagi dari dalam mulutnya.

Mbah Moedjair kemudian membawa beberapa ikan ke rumahnya dengan maksud untuk dibudidayakan. Usaha budidaya ikan ini tak berjalan mudah.

Mbah Moedjair harus beberapa kali menangkap ikan dan membawanya pulang karena ikan-ikannya mati di kolam air tawar yang ia buat. Ia baru berhasil pada percobaan ke-11 yang mampu mempertahankan empat ekor ikan mujair yang siap dibudidaya di air tawar.

Dari empat ekor ikan mujair ini kemudian Mbah Moedjair sukses mengembangbiakkan. Ia lalu mengenalkan ikan ini pada tetangganya yang lantas mendapat respon baik.

Dari sini ia mulai membuat kolam-kolam agar ikan bisa lebih banyak berkembang. Alhasil, kini ikan mujair bisa dengan mudah ditemui di pasaran.

Atas penemuannya ini, Mbah Moedjair mendapat penghargaan dari Pemerintah Hindia Belanda melalui asisten resident Kediri. Ia juga mendapat penghargaan dari Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Pertanian tahun 1951.

Tak hanya skala nasional, Mbah Moedjair juga menyabet penghargaan internasional dari Konsul Komite Perikanan Indo Pasifik pada 1953.

Mbah Moedjair meninggal pada tahun 1957 karena sakit asma yang dideritanya. Ia dimakamkan di Blitar dan nisannya kini dilengkapi dengan keterangan jika ia adalah penemu ikan mujair.

Di Sulawesi Utara, budidaya ikan mujair populer di wilayah Tatelu, Dimembe, Minahasa Utara. Kemudian di Sonder, Minahasa dan di Tondano, Minahasa.  (***)