Warga Potolo: Anak-Istri Kami Hidup dari Tambang Resmi -->
Cari Berita

Advertisement

Translate

Berita Pilihan

Warga Potolo: Anak-Istri Kami Hidup dari Tambang Resmi

editor: hut_kamrin
Jumat, 13 Maret 2020

Warga Potolo merasa terbantu dengan olahan tambang.

Manado, KOMENTAR.ID

Tindakan penertiban tambang Potolo, Tanoyan Selatan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolmong, seolah menutup dapur masyarakat. Aksi yang diduga dipicu desakan oknum mantan brigadir itu dianggap keterlaluan karena mengubur sumber pendapatan resmi ratusan penambang. 

Nasrul Musa, penambang di lokasi Potolo mengutarakan, tambang yang dikelola Stenly terbukti memenuhi kebutuhan rumah tangga. Istri dan anak-anak penambang hidup dari olahan emas di lokasi. 

“Masyarakat di Desa Tanoyan sangat menerima Ko Stenly, karena 70 % hasil tambang untuk masyarakat, sedangkan untuk pengelola hanya 30 %,” jelasnya, Jumat (13/03/2020).

Ia menambahkan, sampai hati penegak hukum begitu polos menjalankan penertiban lantaran desakan pihak yang berusaha meminta upeti. Padahal, dari tambang yang sama, masyarakat mampu membangun rumah pengajian. 

"Memang dalam kontrak kerja, pengelola harus menyisihkan sebagian uang mereka untuk membangun rumah ibadah dan fasilitas lainnya. Dan itu sudah dibuktikan. Saat ini rumah pengajian sudah dibangun,” tuturnya.

Selain memberikan kontribusi berupa bangunan fisik, Stenly juga mempekerjakan 200 lebih orang dan semuanya diupah dengan layak. “Dua ratus lebih masyarakat yang dulunya berprofesi sebagai petani dan pengangguran kini bekerja di lokasi tambang tersebut,” ujar Musa.

Sementara itu, Ko Stenly kepada KOMENTAR.ID menjelaskan, ia bukan pemilik lokasi tambang tersebut  Tapi sebagai investor dan lokasi itu memiliki legalitas dan payung hukum dari tiga koperasi, yakni koperasi Hatama, Waskita Utama dan Medio Potolo. 

“Sesuai kontrak kerja, wilayah pekerjaan seluas kurang lebih 200 Ha sesuai dengan lahan milik koperasi, saya hanya pengelola,” kata Stenly.