Tak Ada Persma, Persipura pun Jadi: Menanti Kembali Angkernya Stadion Klabat Manado -->
Cari Berita

Advertisement

Translate

Berita Pilihan

Tak Ada Persma, Persipura pun Jadi: Menanti Kembali Angkernya Stadion Klabat Manado

editor: komentar.id
Minggu, 01 Maret 2020

Kolase foto kaptem tim Persipura, Boaz Sollosa, dan skuad Persma Manado di musim Ligina II. (File Komentar.ID)

Manado, KOMENTAR.ID

Stadion Klabat Manado pernah menjadi salah satu stadion angker di zaman Liga Indonesia (Ligina), musim 1995 sampai 1998. Kala itu, sang tuan rumah Persma Manado, menjadi momok menakutkan bagi setiap tim tamu.

Musim 1995/1996, Persma Manado memulai debutnya di pentas Ligina II (Dunhill) dengan julukan Badai Biru. Memulai debut di kasta tertinggi sepakbola tanah air, Badai Biru kental beraroma Chili.

Mulai dari Coach Mannuel Vega, serta trio legiun asingnya Rodrigo Araya, Juan Rubio dan Nelson Sanchez, sukses menjadi tuan rumah yang sangar bagi setiap tim tamu.

Di kontestasi Wilayah Timur, Persma Manado menjadi tim unggulan. Francis Wewengkang dkk bahkan menjadi rival abadi tim yang tenar terlebih dulu di pentas Ligina I, yakni PSM Makassar termasuk Persipura Jayapura.

Pada Ligina III atau di musim kompetisi 1996/1997 (Liga Kansas), tim yang identik dengan warna biru kuning ini kemudian diperkuat para pemain muda jebolan PON XIV.

Legiun asing saat itu berganti dari aroma Chili ke Kamerun. Tiga legiun Kamerun, Onana Jules Denis, Ebongue Ernest dan Jean Pierre Fiala, membuat pola permainan Persma Manado sedikit berubah.

Di musim ini, Persma Manado tetap menjadi momok menakutkan bagi tim lawan sekaligus sukses mempertahankan predikat Stadion Klabat sebagai stadion angker bagi tim tamu.

Saban Rabu dan Minggu sore, stadion berkapasitas 10.000 orang itu, menjadi lautan manusia. Para supporter pun terus percaya diri ketika Persma memainkan laga kandangnya, pasti akan mendulang tiga poin penuh.

Keangkeran Stadion Klabat akhirnya runtuh ketika mengalami kekalahan perdananya di musim kompetisi berikut. Kekalahan tak hanya terjadi saat itu, namun terus terjadi. 

Apalagi, setelah tahun 2000, Persma mengalami kemunduran berarti setelah lepasnya kursi Gubernur Sulut dari pangkuan EE Mangindaan, sebagai tokoh sepakbola yang berjasa bagi Persma Manado.

Cukup lama publik Manado khususnya pecinta sepakbola menanti kembali kiprah Persma Manado di kasta tertinggi sepakbola tanah air. Namun apa daya, penantian itu hanya terus menjadi penantian hingga sekarang.

Namun, di musim kompetisi 2020, penantian itu seolah terjawab. “Bolamania” Manado dan Sulawesi Utara pada umumnya, kembali dibangkitkan dahaganya oleh kehadiran Persipura Jayapura.

Dipilihnya Stadion Klabat Manado sebagai home base skuad Mutiara Hitam di ajang Liga 1, membuat para gila bola di daerah ini seolah bersorak tanpa batas.

Tak ada Persma, Persipura pun jadi. Kira-kira begitu jawaban bolamania di daerah ini menyambut Persipura yang menjadikan Stadion Klabat Manado sebagai home base mereka.

Persipura pun kini siap melakoni laga perdananya kontra PSIS Semarang, Minggu (01/03-2020) sore nanti di Stadion Klabat Manado.

Publik Manado berharap, Persipura sebagai ‘Persma-nya’ mereka, akan mampu memainkan perannya sebagai tuan rumah yang ditakuti setiap tim tamu.

Sekaligus juga mengulang kembali masa-masa keangkeran Stadion Klabat Manado, di pentas Ligina Dunhill dan Kansas. 

(kid)