EIU Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2020 Tetap Positif -->
Cari Berita

Advertisement

Translate

Berita Pilihan

EIU Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2020 Tetap Positif

editor: hut_kamrin
Senin, 30 Maret 2020

Ilustrasi bongkar-muat di Pelabuhan Tanjung Priuk, Jakarta. Foto: Google image

Jakarta, KOMENTAR.ID —Pandemi corona dipandang The Economist Inteliigence Unit (EIU), akan menyeret negara-negara G20 dalam jurang resesi. Secara umum, perekonomian global diprediksi akan terkontraksi 2,2% karena pandemi corona. Mengutip paparan EIU, Kamis (26/3), Global Forecasting Director EIU Agathe Demarais menyatakan, saat ini gambaran ekonomi global bisa dikatakan suram, dengan ancaman resesi di hampir seluruh negara-negara maju di dunia.

EIU berasumsi, kemungkinan adanya pemulihan ekonomi di paruh kedua tahun 2020 memang ada. Namun, risiko penurunan ekonomi tetap tinggi, karena adanya kemungkinan munculnya gelombang epidemi kedua dan ketiga dari virus corona. Hal ini, menurut Agathe, akan makin menenggelamkan ekonomi. "Kombinasi dari pendapatan fiskal yang rendah dan tingginya pengeluaran publik, akan menempatkan banyak negara di ambang krisis utang," ujar Agathe, dalam laporan berjudul COVID-19 to Send Almost all G20 Countries Into a Recession, dikutip Sabtu (28/3). Untuk G20, EIU memproyeksi hampir seluruh anggota G20 akan mengalami pertumbuhan ekonomi negatif. Amerika Serikat (AS) misalnya, perekonomiannya diproyeksi turun, dari proyeksi awal 1,7% menjadi -2,8%. EIU memandang, respon awal pemerintah AS terhadap virus corona tergolong buruk, berimbas pada makin banyaknya jumlah kasus positif di AS. Selain itu, risiko ekonomi akibat pandemi corona yang meningkat ini diperparah dengan kejatuhan harga minyak.

Kombinasi pandemi corona dan penurunan harga minyak global, membuat investasi akan mengalami kontraksi tajam tahun ini, terutama di sektor energi. Imbasnya, ekspor akan turun. Anggota G20 dari zona Eropa, diprediksi EIU juga akan mengalami resesi. Jerman, sebagai negara dengan perekonomian paling kuat di Eropa, diproyeksi mengalami pertumbuhan negatif, yakni -6,8%. Pasalnya, sektor manufaktur Jerman besar sangat berorientasi ekspor, yang sangat tergantung dari permintaan global. Mengingat permintaan global diprediksi turun tajam, maka ekspor manufaktur Jerman pun terdampak. Negara anggota G20 lainnya diproyeksi EIU juga mengalami pertumbuhan negatif. Rinciannya, Argentina (-6,7%), Australia (-0,4%), Brazil (-5,5%), Canada (-1,3%), Perancis (-5%), Italia (-7%), Jepang (-1,5%), Korea Selatan (-1,8%), Meksiko (-5,4%), Rusia (-2%), Arab Saudi (-5%), Afrika Selatan (-3%), Turki (-3%) dan Inggris (-2,8%). 

Hanya tiga negara anggota G20 yang diprediksi EIU tidak mengalami pertumbuhan negatif, meski pertumbuhan ekonominya turun tajam. Tiga negara tersebut antara lain, Tiongkok, India dan Indonesia. Perekonomian Tiongkok diproyeksi hanya akan tumbuh 1% tahun ini, turun dari proyeksi semula 5,9%. Kemudian, perekonomian India diproyeksi tumbuh 2,1%, turun dari proyeksi awal 6%. Sementara, Indonesia, yang sebelumnya tahun ini diproyeksi tumbuh 5,1%, hanya akan mampu mencatatkan pertumbuhan 1% tahun ini. (***)