Tololiu: Tulude, Khasana Budaya dan Simbol Pemersatu Umat Beragama -->
Cari Berita

Advertisement

Translate

Berita Pilihan

Tololiu: Tulude, Khasana Budaya dan Simbol Pemersatu Umat Beragama

editor: dax_dacko
Jumat, 07 Februari 2020

Camat Motongkat Iwan Tololiu saat sambutan mewakili pemerintah daerah di Tulude Desa Jiko Utara, Kamis (06/02-2020).

Motongkat, KOMENTAR.ID

Pesta Adat Tulude yang biasanya hanya dirayakan sekelompok warga Sangihe, kini ikut menjadi salah satu pesta adat yang rutin digelar masyarakat di Desa Jiko Utara Kecamatan Motongkat Kabupaten Boltim.

Seperti halnya prosesi perayaan Tulude  yang dihelat Kamis (06/02-2020). Di mana, Tulude yang diawali dengan doa dan ibadah serta pemotongan Kue Tamo, diikuti ratusan masyarakat, pemuka agama dan pemerintah desa setempat.

Bupati Bolaang Mongondow Timur Sehan Landjar melalui Camat Motongkat Iwan Tololiu mengungkapkan, hajatan Tulude merupakan suatu agenda daerah yang telah di-perdakan sejak beberapa tahun sebelumnya.

Tulude menurutnya adalah khasana budaya dan kekayaan adat dari bangsa Indonesia yang dimiliki Nusa Utara.

“Dengan berdirinya ratusan suku dan adat istiadat, tentunya pemerintah tetap mendorong dan melestarikan dalam hal positif,” katanya dalam perayaan Tulude di Motongkat, Kamis (06/02-2020).

Tololiu juga menambahkan Tulude  merupakan suatu adat atau hukum yang tidak tertulis dengan tradisi yang harus dimaknai bersama.

“Karena pesta adat ini dinilai selain sebuah ungkapan syukur dari masyarakat karena dapat ditambahkan berkat atau rezeki dari Tuhan yang Maha Kuasa, tetapi juga kami melihat ini merupakan sesuatu hajatan masyarakat adat yang dapat menyatukan dan mempersatukan warga atau orang orang Nusa Utara di Bumi Bolaang Mongondow Timur,” ungkap Tololiu.

"Kita ini bukan lagi orang Sangihe atau Sitaro atau Talaud, tetapi kita ini adalah orang Mongondow yang berdarah Nusa Utara,” tambahnya.

Menariknya Camat Motongkat ini juga ikut mengapresiasi warga Desa Jiko bersatu karena meski 95 persen adalah warga dari Nusa Utara yang berkeyakinan nasrani, masyarakatnya dinilai sangat toleran dengan warga dan umat lainnya.

"Saya punya keyakinan Desa Jiko bersatu menjadi barometer dan parameter sebagai benteng pertahanan sambil berharap peran serta warga dalam
menangkal hal-hal negatif agar tidak digerogoti oleh mereka yang tidak menginginkan terciptanya suatu kedamaian serta kerukunan antar umat beragama,” cetusnya.

***