Dari Workshop Martial et Sexuality: Tegakkan Identitas Gender Sejak Usia Anak-anak -->
Cari Berita

Advertisement

Translate

Berita Pilihan

Dari Workshop Martial et Sexuality: Tegakkan Identitas Gender Sejak Usia Anak-anak

editor: mamahit_kimmy
Rabu, 19 Februari 2020

Dr dr Theresia Kaunang SPKJ (K) saat membawa materi dalam workshop. (Kimmy/Komentar.ID)

Manado, KOMENTAR.ID

Akhir-akhir ini marak terjadi pergantian identitas gender. Perbedaan dari identitas asal ketika dilahirkan, laki-laki merasa jiwa perempuan yang terperangkap pada tubuh laki-laki atau sebaliknya.

Gangguan Identitas Gender ini menjadi salah satu yang diangkat pada Workshop Martial et Sexuality yang dilaksanakan oleh Bagian Psikiatri RSU Prof Kandouw dari Fakultas Kedokteran Unsrat, baru-baru ini.

Dr dr Theresia Kaunang SPKJ (K) yang juga Kepala Psikiatri RSU Prof Kandouw menjelaskan, Selasa (18/02-2020), gangguan identitas gender ditandai dengan perasaan gelisah yang dialami seseorang terhadap jenis kelamin biologisnya sendiri.

"Keadaan biologis yang mencerminkan perasaan dalam (inner sence) diri seorang sebagai laki-laki atau wanita," katanya.

Dikatakan, identitas kelamin yang diperlihatkan dalam bentuk sikap pola perilaku, atribut lainnya yang ditentukan secara kultural yang berhubungan dengan jenis kelamin yang berbeda dalam hal maskulinitas atau feminitas yang di bawa sejak lahir.

"Kita dapat melihat beberapa individu dan publik figur yang mengalami gangguan identitas gender ini di medsos atau dari  informasi lainnya," kata dr Theresia Kaunang.

Para peserta workshop serius mengikuti materi. (Kimmy/Komentar.ID)

Dikatakannya, orang yang identitas gendernya sehat, merasa benar-benar laki-laki atau benar-benar perempuan.
Pada gangguan identitas gender, kondisi ini justru terbalik.

Dijelaskannya, gangguan identitas gender berbeda dengan gangguan orientasi seksual, seperti homoseksual atau lesbianisme. Kondisi ini adalah pemilihan objek erotis, tapi tidak merubah identitas gender.

Dikatakan, gangguan identitas gender dapat membuat seseorang ingin berganti kelamin. Laki-laki ingin jadi perempuan atau sebaliknya. Dijelaskan, gangguan identitas gender terdiri dari tiga, gangguan pada anak, remaja dan dewasa.

Penyebab gangguan gender adalah faktor biologi dan psikososial.
Untuk faktor biologi dipengaruhi faktor hormonal dan kromosom.

Dijelaskannya, faktor psikososial dipengaruhi oleh faktor interaksi temperamental anak dan sikap orang tua atau pola asuh.

Untuk itu menurut Dr Theresia Kaunang, segitiga oedipal yaitu kualitas hubungan pola asuh, hubungan orang tua dan anak dalam tahun-tahun pertama anak sangat penting untuk mengatasi gangguan identitas gender.

"Tegakkan Identitas gender sejak masih usia anak-anak," katanya. 

***