Merayakan Natal 'Ilegal' di Brunei, Terancam Penjara 5 Tahun dan Denda 280 Juta -->
Cari Berita

Advertisement

Translate

Berita Pilihan

Merayakan Natal 'Ilegal' di Brunei, Terancam Penjara 5 Tahun dan Denda 280 Juta

editor: hut_kamrin
Senin, 16 Desember 2019

Pemimpin Brunei Darussalam Sultan Bolkiah / Foto : CNBC Indonesia 

Jakarta, Komentar.ID - Brunei Darussalam mengumumkan ancaman hukuman dan denda yang besar bagi pihak yang merayakan Natal secara ilegal. Siapapun yang terbukti merayakan Natal secara ilegal akan dihukum lima tahun penjara, serta denda hingga ratusan juta.

Demikian menurut sebuah deklarasi yang dilaporkan Sultan Bolkiah pemimpin negara kecil yang kaya akan minyak, sebagaimana dilansir dari independent.co.uk, Senin (16/12/2019).

Brunei mulai menegaskan larangan perayaan Natal pada tahun lalu, karena kekhawatiran akan perayaan Natal berlebihan dan terbuka dapat menyebabkan penduduk muslim di negara tersebut menjadi sesat.

Sementara itu, bagi pemeluk agama Kristen dan lainnya yang merayakan Natal, perayaannya harus dilakukan secara privat dan harus terlebih dahulu menginformasikan kepada pihak berwajib.

Adapun pemuka agama Islam di wilayah setempat telah mempromosikan larangan tersebut, dan memperingatkan dengan tegas bahwa mengadopsi segala bentuk ornamen Natal sama halnya dengan meniru agama lain. Tentunya hal ini dilarang dalam tafsiran Islam.

Untuk memastikan hal tersebut, Pejabat dari Departemen Agama juga dilaporkan mengunjungi lokasi bisnis di wilayah setempat untuk memastikan mereka tidak memajang dekorasi Natal. Termasuk diantaranya topi santa dan spanduk dengan tulisan yang berhubungan dengan ucapan Natal.

Pemimpin Brunei, Sultan Hassanal Bolkiah yang telah memerintah bekas jajahan Inggris selama hampir 50 tahun, memperkenal kan larangan Natal pada tahun 2014. Pada tahun yang sama, Brunei menerapkan hukum pidana yang lebih ketat, berdasarkan syariah Islam dan termasuk hukuman seperti rajam dan amputasi.

Sementara itu, larangan Natal dibenarkan berdasarkan undang-undang baru, di mana hukuman untuk merayakan Natal adalah denda US$ 20 ribu atau setara dengan Rp 280 juta atau hukumannya hingga lima tahun penjara. Hukuman lebih berat bisa juga keduanya.

Larangan itu telah menuai beberapa perlawanan, diantaranya kampanye media sosial dengan tagar #MyTreedom, yang mendorong orang Kristen dan lainnya di negara-negara seperti Arab Saudi dan Iran untuk memposting gambar diri mereka merayakan Natal, termasuk beberapa kontribusi dari penduduk Brunei.

Sebagaimana diketahui, paling tidak 65% dari 420 ribu penduduk Brunei adalah Muslim.


Artikel asli : CNBC Indonesia