Argo Ekowisata Ursiaguli, Potret Kejujuran BUMDes Mengelola Dana Pusat -->
Cari Berita

Advertisement

Translate

Berita Pilihan

Argo Ekowisata Ursiaguli, Potret Kejujuran BUMDes Mengelola Dana Pusat

editor: hut_kamrin
Rabu, 18 Desember 2019

Tim pemantau dari Dinas Pariwisata berada di jembatan penyeberangan mangrove. Foto: Hut Kamrin

Ambon, Komentar.ID - Kebijakan Presiden Jokowi membangun dari pinggiran mulai berbuah hasil. Tak sedikit desa-desa se-Indonesia, yang menyerap dana pusat, untuk membangun daerah dengan mekanisme swakelola. Desa Karangguli, sebuah wilayah paling timur yang nyaris luput dari pemberitaan media, menjadi salah satu potret keberhasilan menyerap dana Kemendes Dirjen PDT Rp1.100.000.000, lebih dari harapan.
Jembatan penyeberangan mangrove di Desa Karangguli. Foto: Hut Kamrin

Desa di Kecamatan Pulau Aru-aru, Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku ini mampu membangun Argo Ekowisata Ursiaguli, berkat kucuran dana pusat yang dikelola Badan Umum Milik Desa (BUMDes) Karuanguli dibawah pimpinan Timoteus Djabumir.
Ikon Desa Karangguli berupa ikan Martil. Foto: Hut Kamrin

Kepala Desa Karangguli Frets Selitaniny menerangkan, dana tersebut dibagi dalam dua sasaran kegiatan. Pertama, dana Rp800 juta untuk pengembangan Argo Ekowisata, di desa yang terkenal dengan komoditas buah salak itu. "Kita bikin enam gazebo, panggung utama (bentuk love), jembatan penyeberangan dan ikon desa ikan hiu Martil serta dua buah toilet," beber Salitaniny, kepada Komentar.ID, Rabu (18/12/2019).

Sementara dana Rp300 juta, lanjut Salitaniny, dipakai untuk membangun infrastruktur jembatan penyeberangan mangrove sepanjang 200 meter.
Gazebo untuk wisatawan beristirahat. Foto: Hut Kamrin

Infrastruktur itu untuk menunjang pemeliharaan hutan bakau yang mempunyai menfaat penyokong ekosistem ikan dan burung. "Kita punya Kakatua dan Cendrawasih yang indah dan menjadi primadona Aru," singgung Salitaniny.

Ia berterima kasih kepada ASIDEWI (Asosiasi Desa Wisata Indonesia) yang sejak awal ikut membantu penyusunan perencanaan dan pembangunan program di desa Karangguli.

Badan Penelitian dan Pengembangan (Bapelitbang), Dinas Pariwisata, Dinas Lingkungan Hidup, P3MD ikut membimbing dan aktif mengawas kegiatan desa.

"Evaluasi Kemendes 21 November 2019 di Yogyakarta  dan Bali, pengelolaan dana memang lebih dari target yang dipasang dalam juknis, " ungkap Pendamping Desa Partisipatif (PDP)  Mathias Atdjas.

Ia menegaskan, ada prinsip utama mengelola dana Kemendes Dirjen PDT yang membuat Karangguli berbeda dengan ribuan desa lain di Indonesia. "Mereka (masyarakat) mengelola dengan kejujuran. Karena ada semangat untuk berubah. Ada dampak linear dari Argo Ekowisata Ursiaguli terhadap kelangsungan hidup dan kesejahteraan masyarakat Karangguli, " jelas Mathias. Selain PDP, ada juga Pendamping Desa Teknik Infrastruktur (Perencanaan Gambar dan RAB) yakni Herfy Peimahul.
Obyek berbasis Argo Ekowisata jadi andalan masyarakat Karangguli. 

Setelah terbentuk Argo Ekowisata Ursiaguli, wisatawan dapat mengakses perjalanan melalui transportasi Kedo-kedo (speed boad) dalam ukuran kecil. Dari Kota Dobo,  ibu kota Kabupaten Kepulauan Aru, memakan waktu 5 - 7 menit. (***)